Selamat pagi, negeri dongeng!
Kemarin, usiaku tepat sembilan belas tahun, dan ini tahun keduaku berharap kalimat “selamat ulangtahun” atau mungkin “happy birthday” kau ucapkan padaku. Tapi ternyata, harapan itu tinggallah sebuah harapan. Lagipula, siapalah aku ini? Ya, aku sadar, aku sedang berada di alam nyataku.
Dan kemarin malam pula, negeri dongengku menarikku masuk ke dalamnya, bertemu dengan pangeran impianku. Kau duduk di sana, dan kita bercengkerama bersama. Ya, hanya dengan berada di negeri dongeng—aku dan kau adalah satu. Miris memang, ketika realita menampar mimpi-mimpi indah itu dan aku hidup di sana. Negeri dongeng tidak lebih dari sekadar imajinasi dan bunga tidur belaka.
Di hari ulangtahunku yang kesembilan belas ini, ketika harapan akan hadirnya dirimu kembali tidak terwujud, negeri dongeng dengan anggunnya menghiburku. Saat realita membalikkan telapak tangannya, negeri dongeng memberikan segalanya. Ironi sekali, karena harapan akan dirimu tidak kutemukan di dunia nyata, ia hanya berada dalam negeri dongengku yang indah. Abadi di sana.
Namun walau begitu, kusyukuri apa yang kudapatkan. Terima kasih, Tuhan, untuk kado yang Kau berikan walau hanya sebuah bunga tidur yang tidak bisa kubawa masuk ke alam nyataku. Terima kasih, Tuhan, walau hanya dalam tidur lelapku kau temukan aku dengannya, setidak-tidaknya rindu itu terobati.
Saturday, February 8, 2014
Thursday, February 6, 2014
Aku dan 19
Alhamdulillah. Segala puji bagi Alloh Swt., hari ini usiaku tepat memasuki 19 tahun. Rasa syukur tiada henti kupanjatkan pada-Mu, ya Alloh, atas segala nikmat dan karunia selama ini. Umur yang panjang, kesehatan, rezeki yang berkecukupan. Semuanya atas kehendak dan kasih sayang-Mu pada hamba yang hanya manusia biasa dan berlumur dosa ini.
Tidak terasa, sudah 19 tahun aku menapaki hidup di bumi ini. Semakin tua saja. Tahun depan, usiaku memasuki kepala dua. Artinya, mulai dari sekarang aku harus terbiasa menghadapi masalah-masalah yang berat. Menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bijak dalam berpikir serta mengambil keputusan. Tangguh dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, dan mengurangi kebiasaan menangis untuk hal-hal yang tidak terlalu penting. Juga lebih mampu mengontrol emosi yang kadang naik turun. Seperti kata pepatah, semakin tinggi suatu pohon, maka semakin kencang angin yang menerpanya.
Ada banyak harapan yang kupupuk di usiaku yang kesembilan belas ini. Di antaranya:
1. Semakin Dewasa
Umur memang bukan menjadi patokan kedewasaan seseorang, namun seiring dengan bertambahnya usia, memalukan sekali bila pola pikir yang dipunyai masih bersifat kekanak-kanakan. Olehnya, haruslah kita mempunyai cara berpikir yang lebih bijak, mampu menempatkan sesuatu sesuai dengan status dan kepentingannya, serta selalu bersikap positif. Malu dong, sama umur!
2. Pendidikan yang Cemerlang
Tentu saja, aku bukan lagi remaja putih abu-abu yang kesehariannya diatur oleh jadwal yang tersusun rapi. Di bangku kuliah, aku harus bersikap lebih disiplin dalam menentukan skala prioritas. Membaca buku sebanyak mungkin, menggali ilmu lebih dalam, mengikuti berbagai kegiatan positif, mengurangi foya-foya dan pesta pora. Dengan memaksimalkan waktu untuk hal-hal yang sifatnya baik, insya Alloh, kesuksesan akan segera berada dalam genggaman.
3. Lebih Dekat Bersama Tuhan
Selama ini aku mungkin terlalu sibuk untuk urusan duniawi, hingga terkadang mengabaikan Zat yang telah memberiku kesempatan untuk masih bisa bernafas dan berkegiatan dengan baik. Aku kemudian sadar satu hal: semakin bertambahnya usia, semakin dekat kita dengan kematian. Tentu saja aku tidak mau meninggal dalam keadaan jauh dari Alloh. Karena bila demikian, siapa lagi yang akan membantuku di alam kubur kelak? Selain itu, dekat dengan Alloh juga akan memudahkan impian dan harapanku yang tertunda. So, dunianya dapat, akhiratnya juga dapat.
4. Menemukan yang Terakhir
Sudah tiga tahun lebih lamanya aku “introspeksi diri”. Walaupun dalam kurun waktu itu, aku sempat dekat dengan beberapa pria yang—lumayan menguji mental dan perasaan, dan saat ini aku masih menyimpan satu nama dalam hati. Tapi aku tidak pernah berhenti berdoa, semoga Alloh memberikanku petunjuk tentang “orang terakhir” yang telah ditulisnya dalam Lauhul Mahfudz untukku. Semoga saja Alloh mengizinkanku bertemu, dekat dan bersama-sama dengannya dimulai dari usiaku yang kesembilan belas ini, agar aku bisa belajar menempatkannya dalam hatiku mulai dari sekarang. Semoga Alloh selalu memberiku petunjuk.
Untuk keluarga, teman-teman dan kerabat yang telah memberikan ucapan selamat ulang tahun beserta wishes-nya, terima kasih banyak. Jazakallah khairan. Thank you so much. Merci beaucoup. Danke schon. Arigatou Gozaimasu. Xie Xie. Semoga harapan-harapan yang kalian sebutkan, yang kutulis di atas, dijabah oleh Alloh Swt. Amin ya Robbal Alamin.
Tidak terasa, sudah 19 tahun aku menapaki hidup di bumi ini. Semakin tua saja. Tahun depan, usiaku memasuki kepala dua. Artinya, mulai dari sekarang aku harus terbiasa menghadapi masalah-masalah yang berat. Menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bijak dalam berpikir serta mengambil keputusan. Tangguh dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, dan mengurangi kebiasaan menangis untuk hal-hal yang tidak terlalu penting. Juga lebih mampu mengontrol emosi yang kadang naik turun. Seperti kata pepatah, semakin tinggi suatu pohon, maka semakin kencang angin yang menerpanya.
Ada banyak harapan yang kupupuk di usiaku yang kesembilan belas ini. Di antaranya:
1. Semakin Dewasa
Umur memang bukan menjadi patokan kedewasaan seseorang, namun seiring dengan bertambahnya usia, memalukan sekali bila pola pikir yang dipunyai masih bersifat kekanak-kanakan. Olehnya, haruslah kita mempunyai cara berpikir yang lebih bijak, mampu menempatkan sesuatu sesuai dengan status dan kepentingannya, serta selalu bersikap positif. Malu dong, sama umur!
2. Pendidikan yang Cemerlang
Tentu saja, aku bukan lagi remaja putih abu-abu yang kesehariannya diatur oleh jadwal yang tersusun rapi. Di bangku kuliah, aku harus bersikap lebih disiplin dalam menentukan skala prioritas. Membaca buku sebanyak mungkin, menggali ilmu lebih dalam, mengikuti berbagai kegiatan positif, mengurangi foya-foya dan pesta pora. Dengan memaksimalkan waktu untuk hal-hal yang sifatnya baik, insya Alloh, kesuksesan akan segera berada dalam genggaman.
3. Lebih Dekat Bersama Tuhan
Selama ini aku mungkin terlalu sibuk untuk urusan duniawi, hingga terkadang mengabaikan Zat yang telah memberiku kesempatan untuk masih bisa bernafas dan berkegiatan dengan baik. Aku kemudian sadar satu hal: semakin bertambahnya usia, semakin dekat kita dengan kematian. Tentu saja aku tidak mau meninggal dalam keadaan jauh dari Alloh. Karena bila demikian, siapa lagi yang akan membantuku di alam kubur kelak? Selain itu, dekat dengan Alloh juga akan memudahkan impian dan harapanku yang tertunda. So, dunianya dapat, akhiratnya juga dapat.
4. Menemukan yang Terakhir
Sudah tiga tahun lebih lamanya aku “introspeksi diri”. Walaupun dalam kurun waktu itu, aku sempat dekat dengan beberapa pria yang—lumayan menguji mental dan perasaan, dan saat ini aku masih menyimpan satu nama dalam hati. Tapi aku tidak pernah berhenti berdoa, semoga Alloh memberikanku petunjuk tentang “orang terakhir” yang telah ditulisnya dalam Lauhul Mahfudz untukku. Semoga saja Alloh mengizinkanku bertemu, dekat dan bersama-sama dengannya dimulai dari usiaku yang kesembilan belas ini, agar aku bisa belajar menempatkannya dalam hatiku mulai dari sekarang. Semoga Alloh selalu memberiku petunjuk.
Untuk keluarga, teman-teman dan kerabat yang telah memberikan ucapan selamat ulang tahun beserta wishes-nya, terima kasih banyak. Jazakallah khairan. Thank you so much. Merci beaucoup. Danke schon. Arigatou Gozaimasu. Xie Xie. Semoga harapan-harapan yang kalian sebutkan, yang kutulis di atas, dijabah oleh Alloh Swt. Amin ya Robbal Alamin.
Tuesday, January 21, 2014
Aku, Kau, dan Kaleng Susu Putih
Juli, 2012…
Seperti pada beberapa malam sebelumnya, kulakukan pekerjaanku sebagai koordinator lapangan seperti biasa. Saat itu aku sedang memerika keadaan seluruh ruangan. Semuanya aman. Di luar sana, para aktor dan aktris mengerjakan skenarionya dengan baik. Penonton terpukau dengan drama yang kami sajikan, terbukti dari tepuk tangan mereka yang kudengar keras dari sini. Aku yang bekerja sebagai salah satu kru dari acara terdahsyat sepanjang tahun ini merasa puas. Tim kami mampu bekerja sama dengan baik.
Malam itu, semuanya sibuk. Aku pun demikian. Rekan-rekan yang lain bertugas sesuai bidangnya masing-masing. Aku sedang berada di ruang tamu sambil memeriksa keadaan seluruh perabotan. Tak lama kemudian, satu persatu tamu mulai berdatangan. Aku satu-satunya panitia yang berada di sana tentu harus memberi pelayanan yang baik. Yang lain pada kemana, sih?!
Woy, kalian di mana?! Gue sendiri nih di ruang belakang. Tamunya banyak bgt, bantuin kek!
Kukirim pesan singkat itu pada rekan-rekan yang lain. Sambil melayani tamu-tamu yang datang, sesekali kulirik jam tanganku. Dua menit. Lima menit. Sepuluh menit. Hanya ada beberapa respon dari mereka,
Sorry, lagi sibuk ngejagain gerbang, nih.
Gue lagi di ruang utama. Yang lain pada istirahat, udah dua hari nggak ada tidur.
Lo stay aja dulu di sana, bentar gue nyusul. Lagi ngurusin penonton.
Dengan dongkol dan usaha untuk tetap bersabar, kusimpan ponselku di kantong. Tamu yang berdatangan semakin banyak, membuatku kewalahan mengatasi mereka. Bisa mampus gue kalo sendirian! Sembari hatiku mengomel-ngomel dengan sumpah serapah, tanpa sengaja kulayangkan pandangan ke arah pintu masuk dan menangkap sesosok lelaki yang berdiri di sana. Hey, tunggu dulu! Itu, kan…
Pikiranku menerawang sejenak pada beberapa tahun yang lalu. Wajah itu hadir kembali setelah sekian lama hilang tanpa kabar. Tubuhnya yang makin tinggi dan berisi dibalut jaket garis-garis berwarna biru dan putih, rambutnya yang hitam dan lurus dibiarkan terurai hingga ke leher seperti aktor drama Asia. Rahang pipinya semakin mengeras dengan sorot matanya yang tajam. Sorot mata yang mampu meluluhkan hampir setiap wanita yang memandangnya lekat-lekat, tak terkecuali aku.
Masih dengan pembawaannya yang cuek dan tenang, ia berjalan lalu duduk di salah satu kursi yang disediakan. Pandangannya disapukan ke segala arah, lalu berhenti padaku. Cepat-cepat kualihkan pandanganku yang sedari tadi menatapnya. Aku tertunduk malu. Dalam hati aku berjanji, bila pandangan kami bertemu lagi, aku harus tersenyum untuknya!
Aku segera menguasai keadaan. Dengan cekatan, kuseduh kopi dan teh untuk tamu-tamu yang datang, tak terkecuali untuknya. Sesekali aku mencuri pandang, lalu cepat-cepat kualihkan mataku. Tiba-tiba, aku teringat rekan-rekanku yang lain. Ya ampun, udah hampir sejam gue nungguin mereka, dan sampai sekarang belum datang juga?!
Kucoba menghubungi mereka dengan mengirimkan sms, tapi tetap belum ada respon. Setelah mengobrol sejenak dengan tamu-tamu tadi, aku meminta izin keluar sebentar dan berjanji akan kembali lagi dalam waktu yang tak lama. Sambil berjalan, kulirik matanya sejenak. Dan ternyata…dia juga sedang menatapku! Mata kami lalu saling berpandangan, lalu kurasakan dengan cepat jantungku berdegup. Aku harus tersenyum! Tekadku dalam hati. Ketika kucoba menarik bibirku dengan pelan-pelan, tanpa sadar kakiku menyentuh sebuah kaleng susu putih dan alhasil, aku menendangnya secara tidak sengaja. Kampreeeet!!! Siapa sih yang udah buang sampah sembarangan??!! Perhatian lalu kualihkan pada kaleng itu, dan…oh my God, tepat di bawah kursinya! Segera kupungut kaleng pembawa sial itu, lalu berjalan cepat keluar dari ruangan. Kepalaku tertunduk, wajahku memerah karena menahan malu. Duh…niatnya mau romantis dikit eh malah kena sial! Entah apa yang berada di pikiran tamu spesial itu, pikiranku sudah tidak sanggup membayangkannya. Saltingnya kelewatan! Dalam hati aku berjanji, tidak akan menampakkan wajahku di depannya untuk sementara waktu. Malu abis!!!
Di luar sana, kulihat rekan-rekanku dari kejauhan berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahku. Dengan memasang raut wajah yang super bete, kutatap mereka satu persatu.
“Dari mana aja?” tanyaku ketus.
“Sorry, Sel. Gue tadi sibuk banget diluar. Kita gantian, ya, lo istirahat aja dulu. Biar gue sama teman-teman yang lain ngurusin di sini.”
Dengan hati yang berusaha untuk tetap bersabar, kuanggukkan kepalaku. Gak papa, deh, itung-itung kesempatan buat gue nyembunyiin malu gara-gara kaleng sialan tadi.
Malam itu menjadi tidak terlupakan olehku. Siapa sih, yang bisa ngelupain momen ketika lo ketahuan salah tingkah di depan cowok yang lo suka? Memalukan! Rasanya ingin sekali kusembunyikan wajahku di dalam kantong plastik untuk sementara waktu, atau mungkin menggantinya dengan wajah orang lain.
Malam itu menjadi cerita tersendiri dalam hidupku. Setelah sekian lama terpisahkan oleh jarak dan waktu, kutemukan kembali puing-puing cinta yang sempat terabaikan. Aku, kau, dan kaleng susu putih.
Thursday, January 9, 2014
Aku dan Kau
“Kembali…
Kulihat awan membentuk wajahmu,
Desau angin meniupkan namamu,
Tubuhku terpaku...”
Halo negeri dongengku! Kemarin kita berjumpa lagi, senang rasanya bisa berada di sana. Ada taman-taman yang indah, sungai yang jernih, kupu-kupu yang cantik, bunga-bunga yang harum, dan tentunya…kau.
Tanganku sepertinya enggan merasa jenuh menceritakan segala hal tentang dirimu. Tentang perasaan yang terpendam bertahun-tahun lamanya. Tentang cinta yang hidup dalam diam. Tentang rindu yang tidak berujung. Tentang pertemuan yang entah kapan waktu akan menjemputnya. Tentangmu.
Ya, lagi lagi kau. Kau seperti tidak ingin beranjak dari pikiranku. Dan hatiku. Kau adalah impian dan negeri dongeng yang hidup di dalam khayalanku. Kau adalah bunga dari setiap tidur nyenyakku. Kau manusia yang maya di mataku.
Ah, apalah aku ini. Tidak ada yang menarik. Pantas saja kau betah tinggal di negeri dongengku, alam nyata seperti enggan menerimamu masuk di dalamnya. Jangan tanya sampai kapan, aku pun tidak bisa menjawabnya.
Mungkin saja, kau tidak lebih dari sekadar pangeran negeri dongeng.
Tapi hatiku selalu berharap, kenyataan akan menarikmu masuk ke dalamnya.
“…and it’s time to face the truth,
I will never be with you.”
Tuesday, December 31, 2013
Aku dan Malam Tahun Baru
It’s already the last day in 2013…
Ketika semua orang sibuk mempersiapkan acara malam tahun baru, aku hanya duduk berdiam diri di kamarku. Bukannya tidak mau berpartisipasi, aku kepingin sekali malah. Bagaimana ya rasanya bertahun baru dengan teman-teman? Maybe we could have a small party, atau mungkin hanya jalan-jalan sambil menikmati kemilau kembang api di atas panorama laut. Ah, asyik sekali kelihatannya. Namun sayang, orangtuaku terlalu sayang padaku. “Tidak boleh,” katanya. “Bahaya. Banyak kasus kriminal yang terjadi di malam tahun baru.” Ya, orangtuaku memang bukan tipe orang yang gampang memberikan izin pada anaknya untuk menginap di rumah teman, atau pulang hingga di atas jam 12 malam. Kecuali untuk alasan yang jelas, dan tujuannya bukan untuk hura-hura. Serta ada beberapa orang yang bisa menjamin keselamatanku (re: bareng teman yang dikenal baik sama mereka). Ya, ambil positifnya sajalah. Mereka terlalu sayang padaku.
Jadi daripada hanya duduk kosong, berdiam diri di sudut kamar sambil meratapi nasib yang tidak bisa bertahun baruan bersama teman-teman, akhirnya aku membuat sebuah solusi. Ya, introspeksi diri.
Menurutku, ini jauh lebih bermanfaat. Introspeksi diri atas apa yang telah dilakukan selama tahun sebelumnya, dan memasang beberapa indikator pencapaian untuk tahun selanjutnya. Sebenarnya untuk kegiatan introspeksi diri ini tidak perlu hanya dilakukan pada malam tahun baru saja, namun di setiap saat. Akan tetapi, menurutku ini penting untuk menentukan beberapa target di tahun yang akan datang. Dalam kamus hidupku sendiri, kategori target hidupku ada empat, yaitu target tahunan, target bulanan, target mingguan dan target harian. Target bulanan, mingguan dan harian merupakan hasil penjabaran dari target tahunan. Makanya, aku perlu menetapkan beberapa target tahunan di awal tahun.
Alhamdulillah, ada beberapa keinginanku yang tercapai di tahun 2013. Di antaranya:
1. Lulus Ujian Nasional, meskipun nilai ujiannya jauh dari harapan.
2. Lulus di Universitas Hasanuddin melalui jalur undangan.
3. Bertemu dengan seseorang.
Di antara semua harapan yang kupasang untuk tahun 2013, hanya itu saja yang tercapai. Mungkin beberapa yang tertunda akan kembali menjadi harapan di tahun 2014 mendatang. Ya, manusia memang hanya bisa berencana tapi Tuhanlah yang menentukan.
Dan, inilah harapan-harapanku di tahun 2014 yang akan datang. Ada banyak sebenarnya, di antaranya:
1. Tinggi badan mencapai 170cm. Tinggi dan berat badan yang ideal adalah idaman kaum hawa, termasuk aku sendiri.
2. Bekerja sebagai tentor bahasa Indonesia di salah satu bimbingan belajar.
3. Lulus SBMPTN 2014? Entahlah. Semoga Tuhan selalu memberikanku petunjuk untuk hal yang satu ini.
Jadi, di malam tahun baru 2014 ini selain membuat berbagai macam resolusi, kuputuskan untuk membaca sebuah novel, atau mungkin menonton televisi yang menayangkan film-film menarik dengan ditemani oleh beberapa cemilan ringan. Terkadang, teman terbaik di saat sedang kesepian ialah makanan dan buku.
By the way, fellas, Happy New Year 2014 :):):)
Friday, December 27, 2013
Why
Kenapakah? Kenapa orang itu? Kenapa bukan orang lain? Dan kenapa harus...ah.
Tidak pernah tidak kukutuk diriku. Logikaku memberontak, tidak setuju. Lagipula...waktunya memang benar-benar tidak tepat. Dan tokohnya. Juga situasinya.
Kenapakah?
Kenapa harus terlalu peduli?
Kenapa harus berlagak seperti patung?
Kenapa ketika semua orang bersikap biasa, aku malah terpaku dengan beragam pikiran di kepalaku?
Aku baik-baik saja hingga orang itu mengisi pikiranku. Dan hatiku.
Kenapakah?
Kenapa logika sulit sekali menyatu dengan perasaan?
Sunday, December 22, 2013
Cerpen - Pesawat Kertas
Aku selalu suka saat-saat di mana aku merasa dekat dengan Sang Maha Cinta. Dalam pekatnya malam, saat mentari pagi tersenyum cerah, atau mungkin ketika hujan turun. Alasannya singkat: aku bisa bercerita banyak pada-Nya tentang dia. Ya, sesederhana itu aku mencintainya—dalam diam dan doa.
Aku tidak pernah jenuh berjalan. Sesekali kerikil membuat hidupku tersandung, mematikan nyala harapan-harapanku. Tetapi selalu saja ada yang membuat api harapan itu tersulut kembali, dan semakin aku memaknainya lebih dalam, kutemukan sendiri jawabannya: keyakinan.
Aku tidak percaya denganroman-roman picisan negeri dongeng. Aku tidak percaya sinetron—atau drama dengan sandiwara hebatnya. Ini ceritaku dengan keelokannya sendiri, aku percaya cinta akan menjemputku menuju kehidupan yang nyata.
***
Senja di sore hari itu kembali hadir dengan garis-garis tipis berwarna oranye di atas langit tempatku berdiri. Angin sepoi-sepoi menyibak seluruh permukaan kulitku dengan halus seakan ingin berkawan denganku. Burung-burung berkicau dengan riang, seperti sedang berdendang untukku. Senja yang sempurna.
Tujuh tahun silam, di tempat ini. Dengan hamparan danau yang jernih dan senja yang setia menemani, aku bersama segelas teh hangat dan setumpuk buku di sampingku. Duduk di atas rerumputan yang hijau, kuambil pena dan selembar kertas lalu kutulis sebait puisi di atasnya. Setelah selesai, kulipat kertas tadi membentuk sebuah pesawat lalu kuterbangkan ke arah utara. Pesawat itu terbang ke sana kemari dibawa oleh angin, hingga jatuh tepat di depan seorang gadis berkerudung merah muda bermata coklat. Ayu, seayu wajah dan hatinya.
Aku menari di atas awan
Membawa rindu dalam sebuah cawan
Demi senja yang mewakili cakrawala,
Kutitip pesan pada SangMaha Cinta
Untuk Kau jaga dia—bidadari tanpa sayap
Gadis itu menghampiriku dengan pesawat kertas yang kubuat di tangan kanannya. Bibirnya melengkung tipis dengan kedua cawak di pipinya sambil menyodorkan pesawat kertas itu kepadaku. Entah mengapa saat itu waktu seperti berhenti berjalan, membiarkanku terhanyut di dalamnya. Aku seperti sebuah patung, atau mungkin mayat hidup. Terbujur kaku dan pucat.
“Ambillah.” Kataku dengan suara yang serak. Susah payah kukumpulkan tenagaku untuk bisa mengucapkan satu kata saja untuknya.
“Benarkah?” Ia menimang pesawat kertas itu selama beberapa detik. “Terima kasih.” Katanya lembut sambil tertunduk malu, kedua pipinya memerah dengan senyum yang berseri-seri. Wajah putihnya yang oval semakin bersinar diterpa mentari senja. Kemudian ia berlalu dengan pesawat kertasku di tangannya yang kini menjadi miliknya.
Aku terdiam beberapa saat sambil memandangnya dari kejauhan hingga ia benar-benar hilang dari pelupuk mataku, begitu pun senja yang menemaniku sedari tadi kini mulai berganti warna. Gema azan berkumandang di angkasa, menyeru kepada setiap insan untuk menghadap pada Penguasa Alam. Kujawab dalam hati panggilan-Nya, tak lupa kuselip nama gadis tadi dalam doaku sembari berharap dijabah oleh Sang Maha Cinta.
***
“Kalian berdua ini, serasi sekali.”
Kalimat singkat nan menggetarkan hati itu tak asing lagi di telingaku. Entah sudah berapa kali kudengar dari mulut teman-temanku kala mendapatiku sedang bercengkerama dengan Ayu—gadis ayu yang hobi mengoleksi pesawat kertasku. Setiap kalimat itu lewat di pendengaranku, sebait doa terucap pula dalam hatiku. Kemudian aku mengamininya dengan penuh pengharapan dan keikhlasan, berharap agar doa-doa itu menjadi nyata dan tak lupa kusisipkan rasa ikhlas atas segala keputusan Sang Maha Cinta.
Bila benar ia masa depanku, maka jagalah api cinta ini di bawah lindungan-Mu. Pertemukan pula kami di saat yang benar-benar tepat. Bila bukan, berikan hati yang lapang untukku dan aku yakin, penggantinya akan jauh lebih baik. Amin.
Ya, sesederhana itu aku mencintainya.
***
Aku selalu suka saat-saat tengah malam, di mana aku bisa berdialog sepuasnya dengan Tuhanku. Atau ketika hujan turun, dan aku akan berdoa sebanyak mungkin. Di dalam kepercayaanku, berdoa pada saat-saat itu akan lebih mudah dikabulkan. Maka tidak kusia-siakan nikmat ini begitu saja, kucurahkan segalanya hanya kepada Yang Maha Mendengar—tidak terkecuali tentang gadis itu.
Hingga pada akhirnya doaku benar-benar terjabah. Lima tahun yang lalu dengan sepenuh hati, dibimbing oleh penghulu dan disaksikan beberapa hadirin, kuucapkan ijab kabul dengan mantap. Rasa syukur dan bahagia tiada tara ada dalam diriku kalapara saksi mengucapkan kata sah. Ditambah lagi ketika kupasangkan cincin emas di jari manis Ayu, semakin besar rasa cintaku pada Tuhan yang telah menyentuh doa-doaku.
“Masih belum puas menikmati senjanya?”
Aku terlalu sibuk dengan lamunanku sehingga tanpa kusadari sejak dari tadi Ayu berdiri di belakangku. Senyum tipis itu kembali tersungging dengan manis tatkala ia duduk di sampingku dengan beberapa buah pesawat kertas di pangkuannya. Lalu kami bercengkerama bersama, menghabiskan senja di hari ulangtahun pernikahan kami yang kelima.
“Fahran…”
Aku menoleh ke arah istriku itu. Ia lalu menggenggam tanganku dengan lembut.
“Aku seperti perempuan paling beruntung di dunia yang menjadi istri dari seorang suami yang selama ini kucintai dalam diam,”
“Aku selalu suka saat-saat di mana aku merasa dekat dengan Sang Maha Cinta. Baik itu di sepertiga malam, atau ketika hujan turun. Alasannya singkat, Fahran: Karena aku yakin seluruh munajatku tentangmu akan dikabulkan,”
Aku terdiam beberapa saat. Kubiarkan Ayu menggenggam erat kedua tanganku.
“Aku diam bukan berarti aku tidak peduli. Aku hanya mendoakanmu, sesederhana itu cintaku.”
Lalu kucium kedua punggung tangannya, kemudian kubenamkan wajahku di sana. Ada air mata bahagia yang mengalir di pipiku. Rasa syukur tiada henti-hentinya kuucapkan pada Sang Maha Cinta atas segala karunia-Nya.
“Ana uhibbuka fillah, Fahran.”
Kuangkat wajahku pelan, lalu kukecup keningnya. Kemudian mataku beralih pada pesawat-pesawat kertas yang dibuatnya tergeletak begitu saja. Kuambil satu persatu, dan kuterbangkan ke udara. Ayu tersenyum kecil dan ikut menerbangkan pesawat-pesawat kertas itu. Hingga pada pesawat yang terakhir, kubiarkan ia menerbangkannya dengan sebait puisi di sana,
Cintaku tidak berbuah semu
Tidak sendu, tidak pula ragu
Dan demi senja yang selalu kurindu
Kukirimkan pesan pada Sang Maha Cinta
Untuk Kau abadikan kami dalam surga
“Ayu…”
Wajah lembutnya menoleh ke arahku, masih dengan senyumnya yang khas. Manis.
“Wa ana uhibbuki fillah.”
Pesawat kertas itu menari-nari di udara.
Subscribe to:
Posts (Atom)