Friday, August 12, 2011
Entahlah
Entahlah. Kali ini saya mau menulis, tapi tidak tau tentang apa. Mau cerita, tapi tidak tau apa topiknya. Entahlah. Tidak ada ide. Entahlah. Cariin ide dong! -,- Entahlah. Apa bagus ditulis ini? Banyak ceritaku. Tapi, entahlah, lagi gak ada mood. Entahlah. Tidak ada gagasan. Di mana orang cari gagasan dengan ide kah? Kalau ada di jual, saya mau beli. Berapa sih harganya? Goceng cukup gak? Entahlah. Saya sendiri tidak tahu. Pembaca sekalian, posting-an ini sangat tidak penting! Mengapa anda tetap ingin membaca sampai akhir kalimat? Entahlah... Itu urusan anda. Dan pasti anda berpikir, "Ini orang kurang kerjaan ya? Dasar sinting!" iya kan? Entahlaaaaahhh siapa suruh mau baca hahahaha :D -_-v
Tuesday, June 21, 2011
Ketika Hujan Turun
Seandainya saja hujan tidak turun pada hari itu, akankah aku mencintainya? Akankah aku menyimpan sebuah perasaan terhadapnya? Akankah keadaanku sesuram ini? Akankah dia selalu berada dalam ingatanku? Entahlah, aku tak tahu. Yang aku tunggu hanyalah sosoknya dan janjinya. Namun semuanya hilang tersapu debu, membuatku menunggu matahari, karena aku menyayanginya lewat gerimis di pagi hari dan mencintainya kala hujan di malam hari.
***
Aku merapikan kertas-kertas yang berserakan di meja kantorku. Ku tatap jam di dinding depanku, sudah pukul 5 tepat, batinku. Ryan belum muncul, mungkin terjebak macet di jalan. Segera ku ambil tas ku lalu memasukkan sebuah laptop dan beberapa map. Hari yang sangat melelahkan. Setelah membereskan meja kantor, aku pamit pada rekan-rekanku lalu menunggu Ryan di luar. Hujan turun rintik-rintik, kenangan 3 tahun lalu itu masih terekam dengan indah di memoriku, saat semuanya masih utuh dan belum ternodai kebohongan. Dimana ada sebuah cinta yang berjanji takkan mati, sebuah cinta yang berkata takkan pergi....
“Rei, kamu yakin mau pulang sekarang?”, tanya Rafa sekali lagi. “Masih gerimis...”,
“Tapi ini udah malem banget, Fa. Tapi kalo kamu pengen nungguin hujan berhenti, gak apa apa deh”, jawabku tersenyum.
“Aku sih nggak papa kalo kehujanan, tapi kamu gimana? Ntar kamu sakit, gak masuk kuliah lagi. Padahal bentar lagi kan mau semester”, Rafa membelai rambut panjangku.
“ Nggak papa kok, Fa. Yuk, keburu hujan deras”. Rafa lalu menyalakan mesin motor Honda Beat merahnya lalu aku pun naik di jok belakang. Kami menembus malam yang gelap dan dingin, bercanda dan tertawa riang di atas motor.
“Fa...”, Aku memnggil Rafa pelan.
“Kenapa, Rei?”,
“Fa, aku takut....”, kataku sambil menutup mata.
“Takut? Kamu takut sama apa?”, Rafa kemudian memelankan motornya.
“Ini udah malam banget, gelap, mana hujan pula. Aku takut, Fa...”, kataku sambil memeluk tas ku.
“Reina...”, kata Rafa sambil tersenyum. “Kamu nggak perlu takut, ada aku kok yang selalu jagain kamu. Kamu nggak usah khawatir, Rei, ngggak ada yang perlu kamu takutin...”,
Aku tersenyum, perasaanku menjadi lebih tenang. Hawa dingin tak ku rasakan lagi, tergantikan sebuah kehangatan yang diberikannya. Ku rapatkan tubuhku pada Rafa, seolah takut kehilangan dirinya.
“Rei, kamu pake jaketku, ya. Ntar kamu masuk angin”. Baru saja ia akan mematikan mesin motornya, aku buru-buru menjawab, “Nggak usah, Fa. Aku pake jaketku sendiri, kok. Lagian kalo aku pake jaket kamu, kamu pake apa? Nggak papa kok, Fa”. Jawabku menolak.
“Ya udah, tapi kamu janji gak boleh sakit, ya!”
“Iya, Fa. Aku nggak bakalan sakit kok”. Aku tersenyum. Kami lalu bercanda dan mengobrol bersama, tertawa lepas seakan tanpa beban. Saat-saat seperti ini yang aku suka, yang selalu aku rindukan.
“Fa, hujan makin deras....”, Rafa lalu membalap motornya, menembus hujan dan pekatnya malam. Gemuruh petir sesekali terdengar, memecah keheningan alam. Sayup-sayup ku dengar suara di tengah derasnya hujan, “Reina, aku sayang kamu...”,
***
Aku tersadar dari lamunanku ketika sebuah suara mengagetkanku dari samping kananku, “Reina...”,
“Ryan? Kamu udah datang?”, Buru-buru aku berdiri, mengambil beberapa map yang tadi ku simpan di sebelahku. “Kita pulang, yuk!”, ajakku sambil menggamit tangannya.
“Reina? Kamu nggak papa kan?”, Tanya Ryan khawatir.
“Aku baik-baik aja kok, Yan. Kamu nggak usah cemas”, kataku tersenyum.
“Tadi aku nyamperin kamu, kamu malah asik mengkhayal. Beneran kamu nggak kenapa-kenapa?”, Ryan bertanya sekali lagi.
“Nggak kok, tadi aku cuma kecapean aja. Beneran serius aku nggak papa Yan, swear!”, jariku membentuk angka 2 di depan wajah Ryan.
“Ya udah deh kalo gitu. Aku cuma takut terjadi apa-apa sama kamu, Reina...”, Ryan tersenyum. Wajahnya memamerkan kedua lesung pipinya yang dalam.
“Gitu dong, kamu harus percaya sama aku, Yan”. Aku tertawa bersamanya. Hujan kini berhenti, berganti matahari yang memancarkan sinarnya walau sudah pukul setengah 6 sore. Sebuah pelangi terlihat di ufuk barat, seakan mewarnai kebahagiaan kami berdua, aku dan Ryan.
***
Aku berjalan sendirian di toko buku sebuah Mall. Ku langkahkan kakiku menuju stan “Best Seller” sambil melihat-lihat beberapa buku terbaik. Mataku tertuju pada sebuah novel yang berjudul ‘Rain Affair’ karya Clara Canceriana. Hmm... si cewek jatuh cinta pada saat hujan, gumamku pelan. Dadaku tiba-tiba sesak, kenangan itu tiba-tiba muncul dalam pikiranku lagi, menyerangku tanpa henti, beradu dengan akal sehatku yang memaksanya untuk keluar dari ingatanku sesegera mungkin. Aku berusaha menepis semuanya. Sekarang bukan saatnya. Tempatnya nggak aman, kataku dalam hati. Setelah membayar novel tersebut di kasir, aku langsung pulang ke rumah. Tak sabar membaca isi cerita novel ini. Tiba-tiba saja handphone ku bergetar, ada sebuah sms dari sebuah nomor yang tidak ku kenal.
Hai, Rei! Apa kabar? Aku kangen bgt deh sm kamu, eh kamu lg dimana? Ketemuan, yuk! Ada yg pengen aku omongin. Jam 3 sore ya, di Victoria Cafe. C u!
Rafael
Rafa...kemana aja kamu? Selama ini kamu menghilang, dan sekarang kamu muncul lagi. Rafa...aku juga kangen banget sama kamu. Gimana keadaan kamu sekarang? Tapi Fa...kenapa kamu harus hadir saat aku udah nemuin pengganti kamu? Kenapa baru sekarang? Kenapa nggak dari dulu? Tiba-tiba mataku terasa panas, dan airmataku sudah tak dapat ku bendung lagi. I have to meet him! Gumamku perlahan kemudian bersiap-siap.
***
“Rafa....”, panggilku perlahan sambil menepuk pundaknya.
“Reina! Aku pikir kamu nggak akan datang”, Rafa tersenyum, lalu mempersilahkanku duduk di depannya.
“Fa, darimana aja kamu? Selama ini kamu menghilang....”,
“Rei, aku pengen ngomong sesuatu sama kamu”. Rafa berhenti menyeruput cappucino-nya kemudian melanjutkan pembicaraannya yang tertunda. “Maafin aku Rei...”, katanya sambil menundukkan kepalanya.
“Maaf? Buat apa kamu memintaa maaf, selama 3 tahun terakhir ini, kita nggak pernah ketemu. Aku fikir, kamu nggak punya salah apa-apa kok sama aku. Kenapa kamu harus minta maaf?”, tanyaku balik. Heran.
“Justru itu, Rei...”, Rafa melanjutkan. “Selama ini aku menghilang dari kamu. Karena aku sayang sama kamu, Rei...”,
Aku tersentak kaget. “Kalo kamu sayang sama aku, kenapa kamu harus ngilang dari aku, Fa? Kenapa kamu harus pergi?”
“Karena aku tau, kamu nggak bisa membalas perasaanku. Rei, dulu aku sering bilang kalo aku sayang kamu, tapi kamu nggak pernah mau percaya. Itu yang membuat aku yakin, kalo kamu sama sekali nggak akan pernah bisa sayang sama aku”.
“Fa, kamu mau tahu satu hal selama kamu pergi menghilang gitu aja?”, tanyaku perlahan, menatap kedua matanya yang memancarkan kesedihan.
“Apa?”
“Aku kangen kamu, Fa. Kangen banget. Aku ngerasa kehilangan sosok kamu, yang selalu ada buat aku. Sebelum kamu pergi, aku selalu membohongi perasaanku. Mendustai diriku sendiri atas apa yang ku rasakan sama kamu. Selama kamu nggak ada, aku baru sadar satu hal, ternyata aku sayang banget sama kamu, Fa. Aku capek berperang sama perasaanku sendiri. Tapi aku terlalu bodoh dan munafik, tak pernah mau mengakuinya sedikitpun. Aku hanya tak ingin memendamnya saja, tanpa kau tahu. Dan ternyata aku salah. Memendam perasaan cinta bukanlah hal yang mudah”.
“Kamu masih ingat hujan? Kita berdua terlalu sering dengan keadaan itu. Kamu nggak tau aku sakit tiap mengingat kenangan-kenganan itu. Aku selalu nungguin kamu, aku selalu berharap suatu saat nanti kamu bakal bilang sejujurnya sama aku kalo kamu sayang aku. Aku selalu menunggu saat itu, Fa.”, Airmataku jatuh perlahan, namun ku coba unutuk tetap tersenyum, meski sebenarnya, sangat sakit.
“Ini adalah saat yang kau tunggu-tunggu, Rei. Aku janji, aku nggak bakal ninggalin kamu lagi. Aku sayang kamu, Reina”. Buru-buru ku tarik tanganku saat Rafa berusaha menggenggamnya.
“Rei...”
“Kamu terlambat, Fa. Selama ini, aku capek nungguin kamu yang aku fikir tak kunjung datang. I’ve found someone else. Sorry, Fa...”,
“Reina, kamu......”
“Fa, you have to look for someone else, too. Sekarang aku jadi tenang, karena akhirnya aku bisa tau perasaan kamu sebenarnya, dan aku bisa ngungkapin seluruh isi hatiku sama kamu. You’re unforgettable, Fa. I’ll always remember you by rain”. Ku lihat perasaan sedih pada raut wajahnya, namun ia berusaha untuk tetap tersenyum.
“Thanks, Rei. But you’re irreplacable. Walaupun nanti aku udah dapetin yang pas buat aku, kamu tetap Reina Raydiana yang pernah, selalu dan selamanya menyejukkan perasaanku saat hujan”. Kali ini ku lihat kedamaian di wajah Rafa. Sekarang, tak ada lagi yang perlu disembunyikan. Tak ada lagi yang harus ditunggu dan diragukan. Semuanya sudah jelas. Seberkas kilat menyinari langit, kemudian hujan pun turun. Ya, hujan selalu punya kenangan tersendiri bagiku dan Rafa.
***
Aku menghirup udara pagi yang segar, sesegar pikiranku. Kejadian kemarin sore membuatku berpikir, ternyata kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri kita besok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau nanti. Dan ternyata, cinta bukanlah merupakan suatu hal yang harus dipaksakan, karena cinta tak mengharuskan untuk saling memiliki. Aku tersenyum cerah, secerah mentari di pagi ini. Kali ini aku merasa sangat bahagia.
“Reina, udah siap?”, Ryan mengklakson motornya di halaman rumahku.
“Kita berangkat sekarang yuk, Yan”, kataku lalu duduk di atas motornya.
“Rei, kamu cantik banget pagi ini”. Ryan memujiku sambil tersenyum. Pipiku bersemu merah.
“Apaan sih, Ryan. Udah jalan aja, ntar aku telat nyampe kantornya”, kataku sambil mencubit lengannya.
“Iya deh, sayang”. Ryan membalap motornya. Bagiku, Ryan seperti matahari yang akan selalu menerangi setiap sudut hatiku yang kelam. Sekarang aku udah tau, siapa yang sebenarnya aku cintai, batinku dalam hati sambil tersenyum.
***
***
Aku merapikan kertas-kertas yang berserakan di meja kantorku. Ku tatap jam di dinding depanku, sudah pukul 5 tepat, batinku. Ryan belum muncul, mungkin terjebak macet di jalan. Segera ku ambil tas ku lalu memasukkan sebuah laptop dan beberapa map. Hari yang sangat melelahkan. Setelah membereskan meja kantor, aku pamit pada rekan-rekanku lalu menunggu Ryan di luar. Hujan turun rintik-rintik, kenangan 3 tahun lalu itu masih terekam dengan indah di memoriku, saat semuanya masih utuh dan belum ternodai kebohongan. Dimana ada sebuah cinta yang berjanji takkan mati, sebuah cinta yang berkata takkan pergi....
“Rei, kamu yakin mau pulang sekarang?”, tanya Rafa sekali lagi. “Masih gerimis...”,
“Tapi ini udah malem banget, Fa. Tapi kalo kamu pengen nungguin hujan berhenti, gak apa apa deh”, jawabku tersenyum.
“Aku sih nggak papa kalo kehujanan, tapi kamu gimana? Ntar kamu sakit, gak masuk kuliah lagi. Padahal bentar lagi kan mau semester”, Rafa membelai rambut panjangku.
“ Nggak papa kok, Fa. Yuk, keburu hujan deras”. Rafa lalu menyalakan mesin motor Honda Beat merahnya lalu aku pun naik di jok belakang. Kami menembus malam yang gelap dan dingin, bercanda dan tertawa riang di atas motor.
“Fa...”, Aku memnggil Rafa pelan.
“Kenapa, Rei?”,
“Fa, aku takut....”, kataku sambil menutup mata.
“Takut? Kamu takut sama apa?”, Rafa kemudian memelankan motornya.
“Ini udah malam banget, gelap, mana hujan pula. Aku takut, Fa...”, kataku sambil memeluk tas ku.
“Reina...”, kata Rafa sambil tersenyum. “Kamu nggak perlu takut, ada aku kok yang selalu jagain kamu. Kamu nggak usah khawatir, Rei, ngggak ada yang perlu kamu takutin...”,
Aku tersenyum, perasaanku menjadi lebih tenang. Hawa dingin tak ku rasakan lagi, tergantikan sebuah kehangatan yang diberikannya. Ku rapatkan tubuhku pada Rafa, seolah takut kehilangan dirinya.
“Rei, kamu pake jaketku, ya. Ntar kamu masuk angin”. Baru saja ia akan mematikan mesin motornya, aku buru-buru menjawab, “Nggak usah, Fa. Aku pake jaketku sendiri, kok. Lagian kalo aku pake jaket kamu, kamu pake apa? Nggak papa kok, Fa”. Jawabku menolak.
“Ya udah, tapi kamu janji gak boleh sakit, ya!”
“Iya, Fa. Aku nggak bakalan sakit kok”. Aku tersenyum. Kami lalu bercanda dan mengobrol bersama, tertawa lepas seakan tanpa beban. Saat-saat seperti ini yang aku suka, yang selalu aku rindukan.
“Fa, hujan makin deras....”, Rafa lalu membalap motornya, menembus hujan dan pekatnya malam. Gemuruh petir sesekali terdengar, memecah keheningan alam. Sayup-sayup ku dengar suara di tengah derasnya hujan, “Reina, aku sayang kamu...”,
***
Aku tersadar dari lamunanku ketika sebuah suara mengagetkanku dari samping kananku, “Reina...”,
“Ryan? Kamu udah datang?”, Buru-buru aku berdiri, mengambil beberapa map yang tadi ku simpan di sebelahku. “Kita pulang, yuk!”, ajakku sambil menggamit tangannya.
“Reina? Kamu nggak papa kan?”, Tanya Ryan khawatir.
“Aku baik-baik aja kok, Yan. Kamu nggak usah cemas”, kataku tersenyum.
“Tadi aku nyamperin kamu, kamu malah asik mengkhayal. Beneran kamu nggak kenapa-kenapa?”, Ryan bertanya sekali lagi.
“Nggak kok, tadi aku cuma kecapean aja. Beneran serius aku nggak papa Yan, swear!”, jariku membentuk angka 2 di depan wajah Ryan.
“Ya udah deh kalo gitu. Aku cuma takut terjadi apa-apa sama kamu, Reina...”, Ryan tersenyum. Wajahnya memamerkan kedua lesung pipinya yang dalam.
“Gitu dong, kamu harus percaya sama aku, Yan”. Aku tertawa bersamanya. Hujan kini berhenti, berganti matahari yang memancarkan sinarnya walau sudah pukul setengah 6 sore. Sebuah pelangi terlihat di ufuk barat, seakan mewarnai kebahagiaan kami berdua, aku dan Ryan.
***
Aku berjalan sendirian di toko buku sebuah Mall. Ku langkahkan kakiku menuju stan “Best Seller” sambil melihat-lihat beberapa buku terbaik. Mataku tertuju pada sebuah novel yang berjudul ‘Rain Affair’ karya Clara Canceriana. Hmm... si cewek jatuh cinta pada saat hujan, gumamku pelan. Dadaku tiba-tiba sesak, kenangan itu tiba-tiba muncul dalam pikiranku lagi, menyerangku tanpa henti, beradu dengan akal sehatku yang memaksanya untuk keluar dari ingatanku sesegera mungkin. Aku berusaha menepis semuanya. Sekarang bukan saatnya. Tempatnya nggak aman, kataku dalam hati. Setelah membayar novel tersebut di kasir, aku langsung pulang ke rumah. Tak sabar membaca isi cerita novel ini. Tiba-tiba saja handphone ku bergetar, ada sebuah sms dari sebuah nomor yang tidak ku kenal.
Hai, Rei! Apa kabar? Aku kangen bgt deh sm kamu, eh kamu lg dimana? Ketemuan, yuk! Ada yg pengen aku omongin. Jam 3 sore ya, di Victoria Cafe. C u!
Rafael
Rafa...kemana aja kamu? Selama ini kamu menghilang, dan sekarang kamu muncul lagi. Rafa...aku juga kangen banget sama kamu. Gimana keadaan kamu sekarang? Tapi Fa...kenapa kamu harus hadir saat aku udah nemuin pengganti kamu? Kenapa baru sekarang? Kenapa nggak dari dulu? Tiba-tiba mataku terasa panas, dan airmataku sudah tak dapat ku bendung lagi. I have to meet him! Gumamku perlahan kemudian bersiap-siap.
***
“Rafa....”, panggilku perlahan sambil menepuk pundaknya.
“Reina! Aku pikir kamu nggak akan datang”, Rafa tersenyum, lalu mempersilahkanku duduk di depannya.
“Fa, darimana aja kamu? Selama ini kamu menghilang....”,
“Rei, aku pengen ngomong sesuatu sama kamu”. Rafa berhenti menyeruput cappucino-nya kemudian melanjutkan pembicaraannya yang tertunda. “Maafin aku Rei...”, katanya sambil menundukkan kepalanya.
“Maaf? Buat apa kamu memintaa maaf, selama 3 tahun terakhir ini, kita nggak pernah ketemu. Aku fikir, kamu nggak punya salah apa-apa kok sama aku. Kenapa kamu harus minta maaf?”, tanyaku balik. Heran.
“Justru itu, Rei...”, Rafa melanjutkan. “Selama ini aku menghilang dari kamu. Karena aku sayang sama kamu, Rei...”,
Aku tersentak kaget. “Kalo kamu sayang sama aku, kenapa kamu harus ngilang dari aku, Fa? Kenapa kamu harus pergi?”
“Karena aku tau, kamu nggak bisa membalas perasaanku. Rei, dulu aku sering bilang kalo aku sayang kamu, tapi kamu nggak pernah mau percaya. Itu yang membuat aku yakin, kalo kamu sama sekali nggak akan pernah bisa sayang sama aku”.
“Fa, kamu mau tahu satu hal selama kamu pergi menghilang gitu aja?”, tanyaku perlahan, menatap kedua matanya yang memancarkan kesedihan.
“Apa?”
“Aku kangen kamu, Fa. Kangen banget. Aku ngerasa kehilangan sosok kamu, yang selalu ada buat aku. Sebelum kamu pergi, aku selalu membohongi perasaanku. Mendustai diriku sendiri atas apa yang ku rasakan sama kamu. Selama kamu nggak ada, aku baru sadar satu hal, ternyata aku sayang banget sama kamu, Fa. Aku capek berperang sama perasaanku sendiri. Tapi aku terlalu bodoh dan munafik, tak pernah mau mengakuinya sedikitpun. Aku hanya tak ingin memendamnya saja, tanpa kau tahu. Dan ternyata aku salah. Memendam perasaan cinta bukanlah hal yang mudah”.
“Kamu masih ingat hujan? Kita berdua terlalu sering dengan keadaan itu. Kamu nggak tau aku sakit tiap mengingat kenangan-kenganan itu. Aku selalu nungguin kamu, aku selalu berharap suatu saat nanti kamu bakal bilang sejujurnya sama aku kalo kamu sayang aku. Aku selalu menunggu saat itu, Fa.”, Airmataku jatuh perlahan, namun ku coba unutuk tetap tersenyum, meski sebenarnya, sangat sakit.
“Ini adalah saat yang kau tunggu-tunggu, Rei. Aku janji, aku nggak bakal ninggalin kamu lagi. Aku sayang kamu, Reina”. Buru-buru ku tarik tanganku saat Rafa berusaha menggenggamnya.
“Rei...”
“Kamu terlambat, Fa. Selama ini, aku capek nungguin kamu yang aku fikir tak kunjung datang. I’ve found someone else. Sorry, Fa...”,
“Reina, kamu......”
“Fa, you have to look for someone else, too. Sekarang aku jadi tenang, karena akhirnya aku bisa tau perasaan kamu sebenarnya, dan aku bisa ngungkapin seluruh isi hatiku sama kamu. You’re unforgettable, Fa. I’ll always remember you by rain”. Ku lihat perasaan sedih pada raut wajahnya, namun ia berusaha untuk tetap tersenyum.
“Thanks, Rei. But you’re irreplacable. Walaupun nanti aku udah dapetin yang pas buat aku, kamu tetap Reina Raydiana yang pernah, selalu dan selamanya menyejukkan perasaanku saat hujan”. Kali ini ku lihat kedamaian di wajah Rafa. Sekarang, tak ada lagi yang perlu disembunyikan. Tak ada lagi yang harus ditunggu dan diragukan. Semuanya sudah jelas. Seberkas kilat menyinari langit, kemudian hujan pun turun. Ya, hujan selalu punya kenangan tersendiri bagiku dan Rafa.
***
Aku menghirup udara pagi yang segar, sesegar pikiranku. Kejadian kemarin sore membuatku berpikir, ternyata kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri kita besok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau nanti. Dan ternyata, cinta bukanlah merupakan suatu hal yang harus dipaksakan, karena cinta tak mengharuskan untuk saling memiliki. Aku tersenyum cerah, secerah mentari di pagi ini. Kali ini aku merasa sangat bahagia.
“Reina, udah siap?”, Ryan mengklakson motornya di halaman rumahku.
“Kita berangkat sekarang yuk, Yan”, kataku lalu duduk di atas motornya.
“Rei, kamu cantik banget pagi ini”. Ryan memujiku sambil tersenyum. Pipiku bersemu merah.
“Apaan sih, Ryan. Udah jalan aja, ntar aku telat nyampe kantornya”, kataku sambil mencubit lengannya.
“Iya deh, sayang”. Ryan membalap motornya. Bagiku, Ryan seperti matahari yang akan selalu menerangi setiap sudut hatiku yang kelam. Sekarang aku udah tau, siapa yang sebenarnya aku cintai, batinku dalam hati sambil tersenyum.
***
Sunday, May 8, 2011
Benci
Bilamana banci telah merasuk jiwa
Maka hancurlah jembatan maaf itu
Saat hari mulai tertutup malam
Hati pun kelam penuh derita
Bilamana benci telah menggerogoti tubuhku
Tak ada lagi arti senyuman
Kabut hitam menyelimuti tubuhku
Menghempaskanku pada jurang penuh dendam
Bilamana benciku adalah kau
Kata-kata manis itu seakan tak pernah ada
Pun hati yang terbakar oleh amarah
Menyisakan abu yang tak pernah hilang
Maka hancurlah jembatan maaf itu
Saat hari mulai tertutup malam
Hati pun kelam penuh derita
Bilamana benci telah menggerogoti tubuhku
Tak ada lagi arti senyuman
Kabut hitam menyelimuti tubuhku
Menghempaskanku pada jurang penuh dendam
Bilamana benciku adalah kau
Kata-kata manis itu seakan tak pernah ada
Pun hati yang terbakar oleh amarah
Menyisakan abu yang tak pernah hilang
Tak Berarti
Ku tunggu dirimu
Tak jua datang padaku
Ku nanti cintamu
Tak sampai suratku
Ku usap peluhku
Tak letih batinku menunggu
Ku pergi sendirian
Kau tertinggal dibelakangku
Tak jua datang padaku
Ku nanti cintamu
Tak sampai suratku
Ku usap peluhku
Tak letih batinku menunggu
Ku pergi sendirian
Kau tertinggal dibelakangku
My X.6
X.6. Bah itumi kelasta. Kelas paling gila, paling stewar, paling gokil, paling pikakkalak, paling heboh, paling banna’, tapi senang tong jki semua di dalam kah banyak skali suka dukanya :D Terdiri dari 32 orang, deh sanging orang autis ngaseng hahaha -____-v tapi baek smuaji tawwa ;)
Ini mi nama-namanya semua penghuninya kelas X.6. Biarmi bukan dari urut absen nah, tidak ku hafal ki bela :D
1. A. Fitrahdiannsyah
Orang nya baik, opul-opul, rajin, tapi begitumi kodong setiap ada apa-apa pasti dia selalu di anui sm laki-lakinya di kelas hahaha nama panggilannya BISMA :D keren toh? Orang paling gagah itue di X.6, hahahahaha =D
2. Tri Desyani
Baik ji tawwa sebenarnya nah, ine tawwa ngaseng eh suka na calla-calla *baru sy tong ji juga kadang-kadang* ndatau laki-lakinya knapa bisa na katai somse tawwa-_- sorry nah tri, just for fun ji hehehehe
3. Nurzhafira Mahdi
Baik, pintar, wanita shalehah ine. Banyak orang yg suka ki. Cantik ki juga tawwa hehe pendiam ki juga, cinta segitigaki dgn ian sama feny hahaha :D
4. Rachmi Ramdhana
Baik, pintar, deeh teman gila-gilaannya ine parwan eh haha sehidup semati mi juga mungkin dengan eci ckck kalo putar music mi tu dengan parwan, biasa heboh sendiri haha bagus juga tawwa suaranya
5. Harfiah Widyanthi
Baik, cerewet, suka ketawa, deeh ciri khasnya ini anak suka skali mencubit dengan memukul, biasa parwan kodong yg jadi langganan cubitannya, ckck suka skali juga berkelahi dgn parwan, hati hatiko jodoh hahaha
6. Rilo Fambudi
Baik, ndatau kenapa suka skali bilang “weeeeiitsss” hahaha dibilangi RICI sama laki-lakinya, ooh ini pernah terjebak cinta lokasi dengan eci hahaha
7. Desy Natasiah
Baik, tapi agak ongol-ongol sedikit, sedikit ji desy haha sama zyahrawaani ki duduk
8. Sony Somba
Baik, pintar ki fisika sm matematika, pokoknya segala hal yg berhubungan dengan perhitungan beeh pintarki dia, nama julukannya ini SOMBET dgn MORGAN hahaha salah satu personil sm*sh di X.6. duduk sm rilo
9. Reski Awaliah
Baik, pendiam, beeh jago skali ini menggambar (Y) Korea Addict, baku dapatki itu dengan icha, ckckck sama wiwi ki ini duduk
10. Irwanto
Baik, enak skali diajak kerjasama ini kalo ulangan, lucu juga, baru dipanggilkan ki TENTOR hahahaha issengi itu laki-lakinya kenapa anto dipanggil tentor-_- duduk ki sm fitrah, mmh sigappai opulna ckck
11. Muh. Akram
Baik, cool, ekspresi mukanya selalu datar, beeh dramatis skali ini anak-__- ooh suka skakmat orang kalo berdebat, kadang juga nda mau dikalah geak, pintarki juga tawwana. Julukannya AHMAD DHANI wkwkwk
12. Hanna Daturanda
Baik, pintar, suka skali tidur di kelas ini biar jam pelajaran, tapi bisa-bisanya itu tidak diperhatikanki sm guru di’ paling depan ki lagi duduk. Beeh pintarki kimia ini anak. Sama rezky duduk, ooh di jodoh-jodohkan ki ini sm anto dgn laki-lakinya di kelas hahahaha
13. Sarah Anggraeni
Si kecil, beeh suka skali marah marah ini, daeng koro -_-v kadang juga parwan jadi sasaran marahnya kodong, ckck tp baik ki tawwana. Biasa dibilang pendek kodong sm parwan ckck ooh selalu di jodoh-jodohkan dengan akram ini di kelas hahahaha
14. Sri Wahyuni
Tante sri’, beeh anak gaul hahaha paling patotoai, ooh galauerz juga ini wkwkwk biasa gila-gila ini anak, baek ki tawwana
15. Ersiana Nurul Ismah
Baik, pintar fisika ini, kadang stress sendiri gara-gara berat badannya kodong wkwk duduk sm rachmi, pernah terjebak juga cinta lokasi dgn rilo hahaha
16. A. Nurfardyanti
Si kecil juga, baik, polos, lugu, anak gaul juga ini, teman duduknya tante sri’ hahaha
17. Cindy Leona Armani
Baik, cantik, putih lagi, pintarki berdebat juga ine, apa lagi bahasa inggris wets jagonya mi dia, tapi kalau makkala’ deeeeeeh-___-gemparki X.6 hahaha *JK :D
18. Rezkhy Aditya
Baik, ongol-ongolki juga ini anak suka sekali bikin lelucon biasa, julukannya TEGANG sama biasa juga dipanggil putri, oh cinta segitiga ine dngan ica sama ical haha, kalau julukan tegang nda tau juga itu laki-lakinya knpa na juluki tegang wkwk :D
19. Aisyah Aulia Shabir
Baik, cerewet, weeets cinta matimi ini dngan korea dan suju baku dapatki ini dgn eki, ecc kalau baku dptmi itu 2 orang nda berhentimi itu cerita ttg korea, penggemar beratnya HEECHUL hahaha, teman dudukku ine yang paling baek (wets, bsrmi itu kepalanya :D) ooh dibilangi GLADIS inie, cinlok ki dengan ical uhuuyy cie cie hahahaha;p
20. Nurul Athira Yahya
Baik ki ini anak, sm duduk ki dgn fira. Anu juga dibilangi PANIK wkwkk-_-v
21. Samudra Langit
Baik, ciri khasnya adalah bahasa batak wkwk setiap org yang dengar namanya pasti ketwa dan blg “MANA ADA SAMUDRA DI LANGIT?” wkwk oh iyo julukannya kak FAREL hahahaha :D
22. A.Muh Imam Al-Ghifary
Baik, gila, stressss, org paling lucu di X.6. Ini mi ini ciri khasnya X.6, bukan kelas X.6 kalo nda adaki. Sepi skali jg kelas kalo nda dtg ini anak, julukannya KEVIN ;D
23. Zyahrawaani
Baik, pendiam, wetsss kalau ketwa anggun sekali wkwk :D
24. Selvy Annesa Putri
Baik, bawel, teman pulangku ine, suka sekalika na kasih makan dirumahnya ini anak haha, dtg mko di rumahnya baek skali mamanya hahaha ;p, oh iyo julukannya SELAPUT ;D
25. Feny Triani Karangan
Baik, pintar? Weeets jelasss hahaha kalau masalah hitungan kasihmi saja na makan mentahji haha, beda-beda tipisji dgn sony ini hahaha. Cinta segitiga ini dgn ian sama fira hahaha :D
26. Muh.Fikran Alamsyah
Baik, pintar, cerewet, agak kemayu sedikit, nda tau knpa suka sekali blg KUDA hahaha
27. A.Helsa Adilah
Baik, kalau di kls pendiam iya, soulmatenya ine try ee hahaha, kalau bicara muhamma’ ndada komanya ckck ._.v
28. Mohammad Nur Fiqran
Baik, soulmatenya imam ine sama gilanya haha, suka sekali bahasa bugis, pintarki matematika juga, dan paling lucu juga kalau ketwa kuda mi itu haha. Cinta segitigaki dengan fira dan feny hahaha. Julukannya RANGGA personil sm*sh ine hahaha
29. Yusuf Ridwan Gani
Baik, ohhh bapaknya X.6 ini hahaha, berwibawa dan paling penting tawwa anak kesayangannya semua guru cieeeee. Julukannya MUKBES wkwk :D
30. Eizal Aziz Edison
Baik, wakil ketua kelas, sok cool juga samaji teman duduknya hahaha, dibilangi RAFAEL personil sm*sh juga ine dijodoh-jodohkan ki dgn ica cieeeee
31. Suparwan Rasyid
Baik, suka dicalla-calla kodong, tapi deeeh cerewet, teman berkelahinya sarah dgn wiwi ine, kadang patotai baru pakaballisi tapi dari itu semua baekji tawwa na. julukannya UDIN SEDUNIA hahahaha ;D
32. Nurul Fajri Idham
Baik, polos, kalau ketawa tidak kelihatan matanya, lucu juga, oh iyo anak baru ini tapi cptki tawwa akrab karena baekki dan tidak sombong hehehe
Sekianmi dulu temanG-temanG, janko ada marahna just for fun ji ini untuk kenang-kenangan ji jg kalau naik kls 2 maki, lebih dan kurangnya mohon dimaafkan. Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu alaikum wrahmatullahi wabarakatuh.
Eh anu juga, semoga bisa ki naik kels dgn nilai yg memuaskan, dan masuk jurusan yg diinginkan. Janganko ada saling melupakan nanti nah ;)
Created by Nurul Athira & Selvy Annesa Putri
Saturday, April 16, 2011
Kerasnya Hidup
Terbelenggu dalam jurang nestapa
Sebongkah keimananku hancur
Menghantam tiap tiap sudut nurani
Rasanya Tuhan begitu jauh
Padahal tiap hening aku bertasbih di dalam gelap
Tapi mengapa tiap petang ombak besar menerjangku dgn sangat keras?
Terlalu banyak beban yg harus dipikul
Terlalu pahit untuk dirasakan
Kadang kehidupan tak pernah adil
Terus menerus mengeram dalam kehimpitan yg tak berujung
Sebongkah keimananku hancur
Menghantam tiap tiap sudut nurani
Rasanya Tuhan begitu jauh
Padahal tiap hening aku bertasbih di dalam gelap
Tapi mengapa tiap petang ombak besar menerjangku dgn sangat keras?
Terlalu banyak beban yg harus dipikul
Terlalu pahit untuk dirasakan
Kadang kehidupan tak pernah adil
Terus menerus mengeram dalam kehimpitan yg tak berujung
Sunday, April 10, 2011
Menggapai Impian
Ku langkahkan kakiku
Berat namun begitu menggebu
Melewati jalanan penuh duri
Tajam dan keras
Merajut asa
Menjembatani aral yg melintang
Menggapai mimpi setinggi angkasa
Cita cita ku bawa pulang
Berat namun begitu menggebu
Melewati jalanan penuh duri
Tajam dan keras
Merajut asa
Menjembatani aral yg melintang
Menggapai mimpi setinggi angkasa
Cita cita ku bawa pulang
Subscribe to:
Posts (Atom)