Sunday, February 21, 2016

A Blue Lullaby

It’s been three months since the last time we met. Still, I can clearly remember how it went and how my feeling was, since you left me behind without any goodbyes or even apologizes. It hurt. And hurt me more when I found myself worked harder to refrained from everything that related to him, but I throughly can’t. I’m giving up on this situation.

Sometimes I need to punch my face till I wake up and realize that overthink is just wasting time. Sometimes I need someone to open my eyes up so I can see that there are many people out of there who stayed and never left. Sometimes I need a new fresh air to breathe, a place to hide, to escape from any memories that may reminds me of him. Sometimes I need something to release what I feel now.

I have made myself busier than ever. I made plans for future, I joined to some events, I marked the date to hang-out with friends, I forced myself work harder at office, I met a lot of people. All of them worked smoothly and well, but I found an irk thing were tucked in the sidelines of my activities. Just like this night, I hate being so weak and melancholy. I hate when I’m about to sleep and suddenly feel missing someone. I earnestly dislike this situation. This one killed me slowly.

I don’t know why should him, but all I know is when he came, he brought me into a new change.
It’s been four years since the last time I fell in love, and after that, I secluded myself from something that could hurt me more just to make myself secure because I had my own trauma. I was so afraid until God sent me him and He gave us a chance to know each other. I was blessed, even we couldn’t make it last into a special relationship. I was glad, until I realize that God sent him to ‘test’ me, to bring me around that life must go on. I was happy until I learnt one thing: People come and go. Somebody may come to you, but they will leave by their own way. And when they leave, another one will come. So how life goes until the moment finally arrived, he left me.

It hurt to remember again the way he went. He left no one but unworked plans and incomplete promises, and he chose to live with another girl. I felt trifled and I hate this part. Until now, I don’t know who should be blamed; me--who has easily let myself for fall too deep until I lose myself or him--who told and promised me lies.

“Just let it go” will be the easiest thing to say, but actually hard to do. Until now, I can’t exactly choose what things I should do, whether is forgive everything or keep myself away from him. Well, you may say that forgive would be the best choice, but do you know that it’s also the most hard thing to do? Forgive isn’t as easy as you say it. Why? It needs sincerity, so does wound needs time to healed. I certainly will forgive, but not now. The sore is still ails me. Much.

At this time, I just hope that this feeling won’t distract my activities. I do also believe that in the future, I will find myself looking back to this situation with a sweetest smile because I have successfully through it. I will find myself happy with another guy and this situation will be a bedtime story for my future children or even grandchild. I do believe it.

It’s 3:10am now. I have to take a rest from all the exhausting activities. Oh, before I go to bed, let me tell you that right now, I miss you. A lot. I really miss you talking to me. Is missing you a sin? I wish it’s not and if it is, I don’t care.


Good night and see you in the few years later when I find myself happy with another guy.

Thursday, December 31, 2015

Surat Kepada Abang


Tik. Tik. Tik. Gerimis di luar jatuh pelan-pelan seiring dengan alunan Patience-nya Guns ‘n Roses yang terputar di laptopku. Arloji yang kupakai menunjukkan pukul sepuluh malam dan aku masih di kantor berkutat dengan tugas tambahan yang diberikan oleh atasan. Sekarang tanggal 30 Desember, dua hari lagi tahun baru. Tugas-tugas kantor harus kuselesaikan dengan cepat kalau aku mau menikmati tahun baru tanpa beban di pikiran.
Aku mendapati beberapa lembar kertas usang di laci mejaku ketika aku sedang mencari berkas-berkas yang kemarin dibawakan oleh sekretaris. Aku terdiam. Kertas itu sudah menguning, tulisannya pun mulai memudar. Tanpa sengaja, kubaca kembali isi surat itu. Seluruh badanku tiba-tiba menggigil. Kopi yang baru kuseduh lima menit yang lalu juga menjadi dingin. Gerimis di luar semakin keras seiring dengan hujan yang jatuh pelan-pelan dari kedua mataku. Aku bergeming.

Untuk laki-laki yang selalu kurindu, bacalah surat ini. Baca dengan seksama! Semoga semua pertanyaan yang pernah muncul di kepalamu dapat kau temukan jawabannya.

Lima hari yang lalu adalah hari Jumat. Jumat terakhir di tahun 2015...
Sudah lebih dari sebulan berlalu semenjak kejadian itu. Kejadian yang amat menyayat hati, kejadian yang berhasil membuatku menangis hebat setelah bertahun-tahun lamanya aku tidak menangis seperti itu. Kejadian yang mengingatkanku dengan sebuah trauma yang kusimpan rapat-rapat. Kejadian yang membawaku kembali pada diriku di masa lalu.

2015. Kau tahu? Ada banyak hal tak terduga yang terjadi di tahun ini. Orang-orang baru hadir dengan wajah yang baru pula, orang-orang yang telah lama—atau mungkin baru saja tinggal, pergi dengan caranya masing-masing. Sebagian dari mereka kembali, sebagian lagi entah.

2015. Ada banyak pelajaran, hikmah, pengalaman, yang bisa kuambil di tahun ini. Begitu banyak kejadian-kejadian yang sebelumnya hanya kulihat di film-film atau kubaca di novel-novel maupun cerpen, terlihat nyata di hadapanku. Memang, tidak semua keinginanku tercapai sepenuhnya di tahun ini. Sebagian gagal—entah karena situasi dan kondisinya sedang tidak memungkinkan atau memang tidak direstui oleh Tuhan. Tapi, Tuhan baik. Walau beberapa impian-impianku belum terwujud, Ia memberikanku “hiburan” berupa cerita-cerita mengagumkan atau peristiwa-peristiwa yang sebelumnya hanya berada dalam fantasiku, entah cerita-cerita itu dilakonkan oleh diriku sendiri atau orang-orang terdekatku. Dan seperti film atau novel-novel yang dijual di pasaran—mungkin, cerita-cerita itu sukses memberikanku banyak pelajaran hidup. Salah satunya adalah cerita tentangmu...

Aku tidak akan pernah melupakan beberapa potong hari Jumat di tahun 2015 ini. Kata Gus Mus, “Jumat itu hari baik, lakukan hal-hal baik. Tapi jangan meunggu hari Jumat untuk melakukan kebaikan.” Ya. Kita pertama kali bertemu di hari Jumat, dan kupikir hari itu adalah salah satu hari terbaik yang pernah kumiliki. Meski mungkin tidak benar-benar baik.

Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana kita bertemu di hari Jumat di akhir bulan Juli tahun 2015. Aku masih mengingat tempatnya, pembicaraan kita, bahkan pakaian yang kau dan aku kenakan saat itu. Aku masih mengingat apa-apa yang kita bicarakan lewat pesan singkat ketika aku tiba di rumah. Bahkan percakapan kita di hari-hari setelah itu, aku masih mengingatnya dengan jelas.

Aku juga masih mengingat tempat-tempat yang pernah kita kunjungi, jalan-jalan yang kita lalui, orang-orang yang kita temui, hal-hal konyol yang kita lakukan, jam berapa kita tiba di rumah, jam berapa kita tidur. Aku masih mengingat film-film yang kita tonton, isi pembicaraan kita setiap harinya, cerita sedih dan senang yang kita bagikan. Aku akan selalu mengingat bagaimana kau memanggilku dan bagaimana aku memanggilmu. Juga beberapa rasa rindu yang kerap mengunjungimu dan mendatangiku di hampir setiap malam sejak kita tak pernah lagi bertemu—bagaimana kau dan aku menyampaikan rasa rindu itu, aku akan selalu mengingatnya dengan jelas.

Tapi, cintaku, aku juga tidak akan pernah melupakan hari Jumat yang lain di bulan November. Aku tidak akan pernah melupakan bagaimana pagi itu merebut senyum dari bibirku, menggantikannya dengan tangis sepanjang hari. Aku tidak akan pernah lupa bagaimana hari itu menjadi begitu suram ketika aku bangun tidur dengan kabar yang tidak mengenakkan. Aku bahkan masih bisa mengingat wajahku yang semrawut kubawa ke kampus dan ke kantor, juga masih bisa mengingat rasanya menangis hebat di pelukan seorang sahabat.

Dan hari-hari setelahnya, aku tidak akan pernah melupakan bagaimana aku berusaha berdiri di tengah-tengah rasa sakit yang kurasakan. Aku tidak akan pernah melupakan bagaimana setiap malam sebelum tidur, kuyakinkan hatiku, “Kamu bisa. Kamu kuat. Badai pasti berlalu, dan suatu saat kamu akan jatuh cinta lagi. Dengan orang baik.” Aku benar-benar tidak akan pernah melupakan rasa sakit dan kecewa itu selama hampir lima tahun aku tidak merasakan hal yang demikian. Aku tidak akan pernah lupa.

Abang, abangku. Rindu itu selalu datang, Bang. Hampir setiap saat. Hampir setiap aku melewati jalan-jalan yang pernah kita lalui, mengunjungi tempat-tempat yang pernah kita datangi, mendengarkan lagu-lagu yang diputar di radio, atau menemui teman-temanmu. Rindu itu selalu datang, Bang. Hampir setiap malam sebelum kurebahkan badanku di atas tempat tidur, atau ketika aku terbangun di pagi hari dan mendapati segala sesuatunya telah hilang. Bagaimana tidak, Bang. Berkali-kali kau berbicara padaku perihal rindu, perihal sebuah temu yang ingin sekali kau—kita wujudkan. Bagaimana tidak, Bang. Segala bentuk rindu yang kemarin kau sampaikan, seolah-olah kau tabung dalam diriku untuk suatu saat akan dilunasi. Bagaimana tidak, Bang. Aku menyimpan semua rindu yang kau berikan, dan kububuhkan harapan di setiap rasa rindu itu agar esok lusa menjadi sebuah temu yang menyenangkan.

Tapi, Bang. Rindu yang acapkali datang itu, ia tidak pernah sendirian. Ia selalu datang bersama seorang kawan yang baru kukenal di hari Jumat di bulan November itu. Ia datang bersama kekecewaan. Ia membawa rasa kecewa itu masuk ke dalam diriku melalui berbagai celah, menggerogoti seluruh ruang yang ada. Dan pada akhirnya, kekecewaan yang menjelma rasa sakit hati itu selalu menang mengalahkan rindu, Bang. Bahkan seluruh rindu dan janji yang kemarin kau tabung, habis dilahapnya. Ludes.

Abang, abangku. Bagaimana mungkin kau dapat kulupakan dengan cepat? Sedang kau adalah orang yang berhasil membuatku jatuh—sejatuh-jatuhnya cinta setelah bertahun-tahun hatiku menjadi batu. Bagaimana mungkin kau tidak berseliweran di kepalaku setiap malam? Sedang kata-kata rindu dan janji-janji temu yang kita perbincangkan kemarin, tidak ingin beranjak dari pikiranku yang sudah setengah mati berusaha mengusirnya. Dan bagaimana mungkin aku akan melunasi rindu-rindu dan janji-janji temu itu, Bang? Sedang di sana, ada perempuan yang tentu tidak ingin melepaskan dirinya dari pelukmu. Bagaimana mungkin aku mementingkan egoku demi menyelesaikan segala sesuatu yang belum kita selesaikan sama-sama? Sedang aku tahu diri, sadar posisi tempatku berdiri. Sebagai seorang perempuan, aku tahu bagaimana harus bersikap dengan perempuan-perempuan lain. Aku tidak ingin melukai perasaan perempuanmu karena egoku, Bang. Terlebih ia adalah perempuan yang kau cintai dengan sepenuh hati, tidak mungkin aku setega itu.

Abang, abangku. Kalau kemarin-kemarin kau tidak henti-hentinya menyampaikan rasa rindu dan hasratmu yang ingin bertemu, maka percayalah, Bang. Aku pun demikian. Kau mungkin tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menyimpan seluruh rindu yang kupunya dan menunggu hari di mana rindu-rindu itu akan terbalaskan, namun pada kenyataannya hari itu tidak pernah tiba. Kau mungkin tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menanti dadamu yang lapang yang selalu kau janjikan, namun kenyataannya kepala orang lain telah bersandar di sana. Kau mungkin tidak akan pernah tahu rasanya, Bang. Karena aku tidak akan pernah menyampaikannya kepadamu, kecuali lewat surat ini.

Abang, abangku. Malam ini rindu kembali datang ke kamarku yang gelap dan dipenuhi oleh segala hal tentangmu. Ia jahat. Hampir setiap malam ia merampas kantukku, memenuhi isi kepalaku, dan menyumbat arteri-venaku. Ia jahat, Bang. Tapi aku pernah mendengar sebuah nasihat, “Kalau rindu datang, maka pilihanmu hanya tiga: memenuhinya, menyimpannya, atau membunuhnya.” Maka yang kulakukan setiap kali rindu datang setelah hari Jumat di bulan November itu adalah membunuhnya, Bang. Aku membunuh semua rasa rindu yang datang—juga yang pernah kau simpan. Aku minta maaf.

Sejak hari di mana kita tidak pernah lagi bertemu, tidak ada satu hari pun setelahnya di mana aku tidak memikirkanmu, Bang. Kau mungkin tidak akan pernah tahu bagaimana aku ikut bersedih ketika kau menceritakan seluruh kesedihanmu. Kau mungkin tidak akan pernah tahu bagaimana rasa khawatirku ketika kau mengalami kecelakaan. Kau mungkin tidak akan pernah melihat segala bentuk usahaku untuk melunasi rindu-rindumu, memenuhi janji-janjiku untuk sebuah temu—yang selalu gagal. Kau mungkin tidak akan pernah tahu bagaimana aku dengan tabah menunggu usainya kesibukanmu—kesibukan yang menjadi alasan mengapa kita jarang berkomunikasi. Hingga akhinya kau benar-benar disibukkan oleh banyak hal, sampai kau lupa dengan yang pernah kau katakan kepadaku, “Aku tidak akan mungkin melupakanmu, dan aku tidak akan mungkin tidak memberimu kabar.”

Abang, abangku. Ketahuilah, bahwa walaupun kau telah menanam luka di hatiku, kau juga telah menanamkan banyak pelajaran di sana. Kau telah membuka pintu yang selama ini tertutup rapat, menghancurkan tembok yang selama ini berdiri dengan kokoh, menerobos sebuah trauma yang mengungkung dengan kuat. Ketahuilah, bahwa Tuhan mempertemukan kita dengan orang lain karena suatu alasan. Dan satu alasan telah kudapatkan dalam dirimu, Bang: untuk belajar lebih banyak. Salah satu pelajaran favoritku yang dapat kuambil dari dirimu adalah bagaimana aku bisa menerima keberadaan orang lain di sekitarku.

Abang, abangku. Sejak pertama kali kita bertemu, orang-orang tidak henti-hentinya berbicara tentang keburukanmu. Tapi aku percaya kau, Abangku. Aku menutup rapat-rapat telingaku dari omongan-omongan jelek itu. Aku percaya kau adalah orang yang baik, dan memang benar kau baik. Mungkin kemarin kau hanya berusaha mencintaiku tetapi kau gagal, dan aku yang tidak berusaha sama sekali malah melakukannya.

Abang, abangku. Orang tuaku mengajarkanku untuk selalu berterima kasih dan meminta maaf kepada siapa pun. Maka dengan surat ini, aku ingin mengucapkan terima kasih atas waktu yang telah kau luangkan kepadaku. Kau tahu? Seseorang pernah berkata bahwa saat ada orang yang telah memberikan waktunya, sebenarnya ia telah memberikan bagian dari hidupnya yang tidak bisa diambil kembali. Maka aku sangat yakin bahwa kemarin aku pernah menjadi begitu berharga bagimu, karena telah kau berikan sebagian waktumu untukku. Walau hanya sebentar. Aku berjanji, aku tidak akan pernah melupakan waktu-waktu itu.

Abang, abangku. Aku selalu percaya satu hal: besok lusa atau minggu depan atau bulan depan atau tahun depan, aku akan kembali jatuh cinta. Aku akan menjalin hubungan dengan laki-laki yang kucintai, dengan laki-laki yang mencintaiku seperti kau mencintai perempuanmu. Atau bahkan lebih besar. Aku akan menjadi perempuan yang paling bahagia, Abang. Aku berjanji.

Abang, abangku. Jangan sungkan untuk menemuiku kalau-kalau kau butuh tempat untuk bercerita, butuh telinga untuk mendengar, atau butuh pundak untuk bersandar. Orang tuaku selalu mengajarkanku untuk berbuat baik kepada siapapun dan tidak memutuskan tali silaturahmi. Pintu itu akan selalu terbuka lebar untukmu, Bang. Untuk seorang teman lama yang datang berkunjung. Jangan khawatirkan luka yang pernah kau tanam! Percayalah, seiring berjalannya waktu, bila tidak kurawat luka itu, ia akan layu dengan sendirinya. Lalu mati.

Abang, abangku. Untuk semua hal yang telah kita lalui sama-sama, aku ingin meminta maaf kalau-kalau ada perkataan atau perbuatanku yang pernah menyakiti perasaanmu. Kita sama-sama manusia, kita tidak pernah luput dari salah. Kalau suatu saat kita bertemu lagi, entah di tempat yang pernah kita kunjungi atau di tempat yang baru, entah besok lusa atau satu—dua tiga bulan atau tahun kemudian, maka kau dapat memastikan satu hal dariku: luka itu benar telah mati, Bang. Dan aku akan berada dalam kondisi sedang berbahagia. Sangat bahagia. Aku jamin itu.

Sekarang hari Rabu dan lusa adalah hari Jumat. Jumat pertama di tahun 2016...

Sekali lagi, Abang. Terima kasih atas waktu luang yang telah kau berikan kepadaku di tahun 2015 ini. Terima kasih atas pelajaran yang kau tanamkan kepadaku, bahwa ketakutan adalah hal yang harus dihadapi, bukan dihindari. Kekecewaan dan rasa sakit hati bukanlah suatu penghalang bagi kita untuk bahagia, untuk kembali jatuh cinta. Kau telah berhasil membuatku merasakannya kembali, Bang. Merasakan jatuh cinta yang berawal dari kenyamanan dan keterbiasaan bersama, setelah bertahun-tahun aku terjebak dengan ketakutanku. Ada banyak pelajaran lagi yang sebenarnya telah kuambil, tapi tidak akan kusebut semuanya dalam surat ini. Biarlah kusimpan saja, cukup kau tahu bahwa kau telah menjadi begitu berarti bagiku, Abang. Terima kasih.

Abangku, simpanlah surat dan ceritaku ini. Kalau besok lusa aku telah dibahagiakan oleh laki-laki lain, ingatlah bahwa aku pernah bermimpi hidup bahagia denganmu, meski pada akhirnya kita harus bahagia dengan cara kita masing-masing.

Abang, abangku. Selamanya kau akan tetap menjadi abangku.

Abang, bahkan ketika aku menulis surat ini, rindu itu masih saja terus berusaha menyelami aliran darahku. Maafkan rindu itu, Bang. Aku akan segera membunuhnya.

Abangku, kau tidak akan berubah, kan? Berjanjilah bahwa kau akan menjadi salah satu kawan terbaikku, yang tidak akan pernah benar-benar melupakanku.

Abangku, apapun yang terjadi denganmu, apapun yang kau alami, tolong jangan bersedih. Doa-doaku akan selalu setia mengantarmu pada kebahagiaan.
Abang, abangku.

Aku bersyukur telah mengenalmu. Aku menyayangimu.


Yogyakarta, Desember 2015
           

Hujan di luar sudah berhenti dan arlojiku menunjukkan pukul dua belas malam. Sekarang tanggal 31 Desember 2019, besok tahun baru 2020. Sial! Aku lupa bahwa aku telah melewatkan satu hal.
Kubongkar mejaku yang penuh dengan map, kertas, dan buku. Kucari sebuah amplop berwarna kuning emas yang dihiasi pita merah. Aku terduduk lesu, lututku lemas. Kubaca baik-baik isi surat dalam amplop itu. Sebuah undangan.
Dinda, adindaku. Benar telah kau penuhi janjimu untuk jatuh cinta dengan laki-laki lain. Benarlah jaminanmu bahwa ketika kita akan bertemu di suatu tempat—sebagai teman lama, kau dalam kondisi sedang berbahagia. Sangat bahagia. Tidak kusangka tempat itu adalah kursi pengantinmu.
Malam semakin larut dan udara semakin dingin. Di luar, jalanan masih basah seperti pipiku yang baru saja dihujani air mata. Kuseruput kopiku yang mulai dingin: masih saja terasa pahit meski sudah kutambahkan lima sendok gula.
            Selamat berbahagia, adindaku.

Tuesday, January 27, 2015

Melawan Takdir

Tersebutlah dua anak manusia
Lahir dari rahim dan adat yang berbeda
Menyatu karena senja mempertemukan mereka
Membangun asa dari rindu pada penciptanya

Ia gadis cantik, elok rupa maupun akhlaknya
Bibit raja termasyhur dari tanah kelahirannya
Empat huruf emas sebelum namanya
Menjadi benteng kokoh bagi kehormatannya

Di bawah langit bergaris jingga
Dua insan mengucap janji setia
Takkan berpisah hingga ajal berbicara
Menjadi kekasih akhirat dan dunia

Ia pemuda biasa
Tidak bergelar, tidak pula anak cucu raja
Gelisah perihal mahar, sedang ia tak berharta
Hanya akhlak kekayaan yang dimilikinya

Tersebutlah dua anak manusia
Bercinta di bawah bayang-bayang nestapa
Sambil bibir yang tak henti berdoa
Agar tiada duka karena keluarga

Dua insan yang hidup dalam nelangsa
Hingga senja menjadi saksi mata
Betapa cinta menjadi pelipur lara
Melawan takdir bernama kasta

Monday, December 1, 2014

Untuk Tuhan

Tuhan, aku datang…

Hanya di hadapan-Mu, aku bertekuk lutut
Tak tahu lagi siapa yang akan kurengkuh
Dalam sujudku, aku bersimpuh
Betapa dunia telah menenggelamkanku

Tuhan, aku kembali...

Aku tahu, mungkin Kau sedang rindu
Pada hamba-Mu yang mulai jarang bertamu
Aku takut menjadi tak tahu malu
Yang meminta temu hanya ketika pilu berkawan dengan sendu

Tuhan, aku ingin berbagi...

Sungguh, tiada cinta yang lebih abadi daripada cinta-Mu
Tiada rindu yang lebih indah daripada merindukan malam bersama-Mu
Maka ketika cinta menghampiriku,
Tuntunlah daku pada insan yang juga merindu dan mencintai-Mu

Apalah arti dari sebuah cinta
Bila ia tak nyata, hanya membawa derita
Menjauhkan pecandunya dari Sang Pencipta
Betapa seisi alam akan turut berduka cita

Tuhan, ampuni daku…

Jangan murka, hamba hanya manusia biasa
Tiada pernah menjadi sempurna, tiada jua lepas dari dosa
Maka malam ini, hamba datang dengan rindu yang tak terkira
Untuk Sang Maha Esa, telah kurajut bait-bait doa

Friday, October 17, 2014

(Lagi-lagi) Negeri Dongeng

Selamat malam, negeri dongengku. Bagaimana kabarmu sekarang? Sudah lama rasanya tanganku tidak menari di atas kertas putih, bercerita tentangmu yang tidak pernah bisa kusentuh. Masihkah kau angkuh dengan pesonamu yang tidak henti-hentinya kau tawarkan? Sungguh, aku merindukan karismamu yang begitu rupawan. Parasmu yang elok seakan tidak ingin beranjak dari pikiranku—selalu bersemayam di sana. Juga matamu—tatapan elang yang hampir selalu berhasil membunuh kaum hawa, termasuk aku.

Negeri dongengku, entah ke mana lagi aku harus berjalan—mencari-cari petunjuk yang bisa mempertemukanku denganmu. Entah kepada siapa lagi aku harus bertanya, entah di mana lagi aku harus singgah. Tubuhku ini sudah semakin lelah dan kau masih saja asyik berlari. Aku ingin berhenti, tetapi kakiku terus melangkah. Aku ingin beristirahat, namun ragaku enggan memberi celah. Lalu apa yang bisa kuperbuat selain terus berjalan—walau tanpa tujuan dan arah?

Negeri dongengku, sadarkah kau bahwa kita tak pernah saling menyapa? Bahkan melirik ke arahku pun kau tidak pernah. Lucu, bukan? Ketika hanya aku yang berjuang sendirian dan kau tetap asyik dengan duniamu. Ya, aku tahu ini sudah pasti tolol, tapi bukannya cinta memang buta? Dan ia tidak pernah butuh alasan, kan?

Sungguh, kau adalah telaga yang tak akan pernah kering walau dunia hanya mengenal musim kemarau. Selalu sejuk dan mendamaikan. Wajar saja bila aku tak pernah merasa bosan menghabiskan detik demi detik untuk membayangkan setiap detil bentuk tubuhmu. Ah, kau benar-benar candu yang tak ada habisnya. Kau abadi. Maka izinkan aku terus mengagumimu, negeri dongengku. Berjalan menapaki tanah yang mengarahkanku pada tempatmu, aku tak akan berhenti, hingga waktu yang akan menghentikan langkah kakiku.

Saturday, February 8, 2014

Aku dan 19 (2)

Selamat pagi, negeri dongeng!

Kemarin, usiaku tepat sembilan belas tahun, dan ini tahun keduaku berharap kalimat “selamat ulangtahun” atau mungkin “happy birthday” kau ucapkan padaku. Tapi ternyata, harapan itu tinggallah sebuah harapan. Lagipula, siapalah aku ini? Ya, aku sadar, aku sedang berada di alam nyataku.

Dan kemarin malam pula, negeri dongengku menarikku masuk ke dalamnya, bertemu dengan pangeran impianku. Kau duduk di sana, dan kita bercengkerama bersama. Ya, hanya dengan berada di negeri dongeng—aku dan kau adalah satu. Miris memang, ketika realita menampar mimpi-mimpi indah itu dan aku hidup di sana. Negeri dongeng tidak lebih dari sekadar imajinasi dan bunga tidur belaka.

Di hari ulangtahunku yang kesembilan belas ini, ketika harapan akan hadirnya dirimu kembali tidak terwujud, negeri dongeng dengan anggunnya menghiburku. Saat realita membalikkan telapak tangannya, negeri dongeng memberikan segalanya. Ironi sekali, karena harapan akan dirimu tidak kutemukan di dunia nyata, ia hanya berada dalam negeri dongengku yang indah. Abadi di sana.

Namun walau begitu, kusyukuri apa yang kudapatkan. Terima kasih, Tuhan, untuk kado yang Kau berikan walau hanya sebuah bunga tidur yang tidak bisa kubawa masuk ke alam nyataku. Terima kasih, Tuhan, walau hanya dalam tidur lelapku kau temukan aku dengannya, setidak-tidaknya rindu itu terobati.

Thursday, February 6, 2014

Aku dan 19

Alhamdulillah. Segala puji bagi Alloh Swt., hari ini usiaku tepat memasuki 19 tahun. Rasa syukur tiada henti kupanjatkan pada-Mu, ya Alloh, atas segala nikmat dan karunia selama ini. Umur yang panjang, kesehatan, rezeki yang berkecukupan. Semuanya atas kehendak dan kasih sayang-Mu pada hamba yang hanya manusia biasa dan berlumur dosa ini.

Tidak terasa, sudah 19 tahun aku menapaki hidup di bumi ini. Semakin tua saja. Tahun depan, usiaku memasuki kepala dua. Artinya, mulai dari sekarang aku harus terbiasa menghadapi masalah-masalah yang berat. Menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bijak dalam berpikir serta mengambil keputusan. Tangguh dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, dan mengurangi kebiasaan menangis untuk hal-hal yang tidak terlalu penting. Juga lebih mampu mengontrol emosi yang kadang naik turun. Seperti kata pepatah, semakin tinggi suatu pohon, maka semakin kencang angin yang menerpanya.

Ada banyak harapan yang kupupuk di usiaku yang kesembilan belas ini. Di antaranya:

1. Semakin Dewasa
Umur memang bukan menjadi patokan kedewasaan seseorang, namun seiring dengan bertambahnya usia, memalukan sekali bila pola pikir yang dipunyai masih bersifat kekanak-kanakan. Olehnya, haruslah kita mempunyai cara berpikir yang lebih bijak, mampu menempatkan sesuatu sesuai dengan status dan kepentingannya, serta selalu bersikap positif. Malu dong, sama umur!

2. Pendidikan yang Cemerlang
Tentu saja, aku bukan lagi remaja putih abu-abu yang kesehariannya diatur oleh jadwal yang tersusun rapi. Di bangku kuliah, aku harus bersikap lebih disiplin dalam menentukan skala prioritas. Membaca buku sebanyak mungkin, menggali ilmu lebih dalam, mengikuti berbagai kegiatan positif, mengurangi foya-foya dan pesta pora. Dengan memaksimalkan waktu untuk hal-hal yang sifatnya baik, insya Alloh, kesuksesan akan segera berada dalam genggaman.

3. Lebih Dekat Bersama Tuhan
Selama ini aku mungkin terlalu sibuk untuk urusan duniawi, hingga terkadang mengabaikan Zat yang telah memberiku kesempatan untuk masih bisa bernafas dan berkegiatan dengan baik. Aku kemudian sadar satu hal: semakin bertambahnya usia, semakin dekat kita dengan kematian. Tentu saja aku tidak mau meninggal dalam keadaan jauh dari Alloh. Karena bila demikian, siapa lagi yang akan membantuku di alam kubur kelak? Selain itu, dekat dengan Alloh juga akan memudahkan impian dan harapanku yang tertunda. So, dunianya dapat, akhiratnya juga dapat.

4. Menemukan yang Terakhir
Sudah tiga tahun lebih lamanya aku “introspeksi diri”. Walaupun dalam kurun waktu itu, aku sempat dekat dengan beberapa pria yang—lumayan menguji mental dan perasaan, dan saat ini aku masih menyimpan satu nama dalam hati. Tapi aku tidak pernah berhenti berdoa, semoga Alloh memberikanku petunjuk tentang “orang terakhir” yang telah ditulisnya dalam Lauhul Mahfudz untukku. Semoga saja Alloh mengizinkanku bertemu, dekat dan bersama-sama dengannya dimulai dari usiaku yang kesembilan belas ini, agar aku bisa belajar menempatkannya dalam hatiku mulai dari sekarang. Semoga Alloh selalu memberiku petunjuk.

Untuk keluarga, teman-teman dan kerabat yang telah memberikan ucapan selamat ulang tahun beserta wishes-nya, terima kasih banyak. Jazakallah khairan. Thank you so much. Merci beaucoup. Danke schon. Arigatou Gozaimasu. Xie Xie. Semoga harapan-harapan yang kalian sebutkan, yang kutulis di atas, dijabah oleh Alloh Swt. Amin ya Robbal Alamin.

Tuesday, January 21, 2014

Aku, Kau, dan Kaleng Susu Putih

Juli, 2012…

Seperti pada beberapa malam sebelumnya, kulakukan pekerjaanku sebagai koordinator lapangan seperti biasa. Saat itu aku sedang memerika keadaan seluruh ruangan. Semuanya aman. Di luar sana, para aktor dan aktris mengerjakan skenarionya dengan baik. Penonton terpukau dengan drama yang kami sajikan, terbukti dari tepuk tangan mereka yang kudengar keras dari sini. Aku yang bekerja sebagai salah satu kru dari acara terdahsyat sepanjang tahun ini merasa puas. Tim kami mampu bekerja sama dengan baik.

Malam itu, semuanya sibuk. Aku pun demikian. Rekan-rekan yang lain bertugas sesuai bidangnya masing-masing. Aku sedang berada di ruang tamu sambil memeriksa keadaan seluruh perabotan. Tak lama kemudian, satu persatu tamu mulai berdatangan. Aku satu-satunya panitia yang berada di sana tentu harus memberi pelayanan yang baik. Yang lain pada kemana, sih?!

Woy, kalian di mana?! Gue sendiri nih di ruang belakang. Tamunya banyak bgt, bantuin kek!

Kukirim pesan singkat itu pada rekan-rekan yang lain. Sambil melayani tamu-tamu yang datang, sesekali kulirik jam tanganku. Dua menit. Lima menit. Sepuluh menit. Hanya ada beberapa respon dari mereka,

Sorry, lagi sibuk ngejagain gerbang, nih.

Gue lagi di ruang utama. Yang lain pada istirahat, udah dua hari nggak ada tidur.

Lo stay aja dulu di sana, bentar gue nyusul. Lagi ngurusin penonton.

Dengan dongkol dan usaha untuk tetap bersabar, kusimpan ponselku di kantong. Tamu yang berdatangan semakin banyak, membuatku kewalahan mengatasi mereka. Bisa mampus gue kalo sendirian! Sembari hatiku mengomel-ngomel dengan sumpah serapah, tanpa sengaja kulayangkan pandangan ke arah pintu masuk dan menangkap sesosok lelaki yang berdiri di sana. Hey, tunggu dulu! Itu, kan…

Pikiranku menerawang sejenak pada beberapa tahun yang lalu. Wajah itu hadir kembali setelah sekian lama hilang tanpa kabar. Tubuhnya yang makin tinggi dan berisi dibalut jaket garis-garis berwarna biru dan putih, rambutnya yang hitam dan lurus dibiarkan terurai hingga ke leher seperti aktor drama Asia. Rahang pipinya semakin mengeras dengan sorot matanya yang tajam. Sorot mata yang mampu meluluhkan hampir setiap wanita yang memandangnya lekat-lekat, tak terkecuali aku.

Masih dengan pembawaannya yang cuek dan tenang, ia berjalan lalu duduk di salah satu kursi yang disediakan. Pandangannya disapukan ke segala arah, lalu berhenti padaku. Cepat-cepat kualihkan pandanganku yang sedari tadi menatapnya. Aku tertunduk malu. Dalam hati aku berjanji, bila pandangan kami bertemu lagi, aku harus tersenyum untuknya!

Aku segera menguasai keadaan. Dengan cekatan, kuseduh kopi dan teh untuk tamu-tamu yang datang, tak terkecuali untuknya. Sesekali aku mencuri pandang, lalu cepat-cepat kualihkan mataku. Tiba-tiba, aku teringat rekan-rekanku yang lain. Ya ampun, udah hampir sejam gue nungguin mereka, dan sampai sekarang belum datang juga?!

Kucoba menghubungi mereka dengan mengirimkan sms, tapi tetap belum ada respon. Setelah mengobrol sejenak dengan tamu-tamu tadi, aku meminta izin keluar sebentar dan berjanji akan kembali lagi dalam waktu yang tak lama. Sambil berjalan, kulirik matanya sejenak. Dan ternyata…dia juga sedang menatapku! Mata kami lalu saling berpandangan, lalu kurasakan dengan cepat jantungku berdegup. Aku harus tersenyum! Tekadku dalam hati. Ketika kucoba menarik bibirku dengan pelan-pelan, tanpa sadar kakiku menyentuh sebuah kaleng susu putih dan alhasil, aku menendangnya secara tidak sengaja. Kampreeeet!!! Siapa sih yang udah buang sampah sembarangan??!! Perhatian lalu kualihkan pada kaleng itu, dan…oh my God, tepat di bawah kursinya! Segera kupungut kaleng pembawa sial itu, lalu berjalan cepat keluar dari ruangan. Kepalaku tertunduk, wajahku memerah karena menahan malu. Duh…niatnya mau romantis dikit eh malah kena sial! Entah apa yang berada di pikiran tamu spesial itu, pikiranku sudah tidak sanggup membayangkannya. Saltingnya kelewatan! Dalam hati aku berjanji, tidak akan menampakkan wajahku di depannya untuk sementara waktu. Malu abis!!!

Di luar sana, kulihat rekan-rekanku dari kejauhan berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahku. Dengan memasang raut wajah yang super bete, kutatap mereka satu persatu.

“Dari mana aja?” tanyaku ketus.

“Sorry, Sel. Gue tadi sibuk banget diluar. Kita gantian, ya, lo istirahat aja dulu. Biar gue sama teman-teman yang lain ngurusin di sini.”

Dengan hati yang berusaha untuk tetap bersabar, kuanggukkan kepalaku. Gak papa, deh, itung-itung kesempatan buat gue nyembunyiin malu gara-gara kaleng sialan tadi.

Malam itu menjadi tidak terlupakan olehku. Siapa sih, yang bisa ngelupain momen ketika lo ketahuan salah tingkah di depan cowok yang lo suka? Memalukan! Rasanya ingin sekali kusembunyikan wajahku di dalam kantong plastik untuk sementara waktu, atau mungkin menggantinya dengan wajah orang lain.

Malam itu menjadi cerita tersendiri dalam hidupku. Setelah sekian lama terpisahkan oleh jarak dan waktu, kutemukan kembali puing-puing cinta yang sempat terabaikan. Aku, kau, dan kaleng susu putih.

Thursday, January 9, 2014

Aku dan Kau

“Kembali… Kulihat awan membentuk wajahmu,
Desau angin meniupkan namamu,
Tubuhku terpaku...



Halo negeri dongengku! Kemarin kita berjumpa lagi, senang rasanya bisa berada di sana. Ada taman-taman yang indah, sungai yang jernih, kupu-kupu yang cantik, bunga-bunga yang harum, dan tentunya…kau.

Tanganku sepertinya enggan merasa jenuh menceritakan segala hal tentang dirimu. Tentang perasaan yang terpendam bertahun-tahun lamanya. Tentang cinta yang hidup dalam diam. Tentang rindu yang tidak berujung. Tentang pertemuan yang entah kapan waktu akan menjemputnya. Tentangmu.

Ya, lagi lagi kau. Kau seperti tidak ingin beranjak dari pikiranku. Dan hatiku. Kau adalah impian dan negeri dongeng yang hidup di dalam khayalanku. Kau adalah bunga dari setiap tidur nyenyakku. Kau manusia yang maya di mataku.

Ah, apalah aku ini. Tidak ada yang menarik. Pantas saja kau betah tinggal di negeri dongengku, alam nyata seperti enggan menerimamu masuk di dalamnya. Jangan tanya sampai kapan, aku pun tidak bisa menjawabnya.

Mungkin saja, kau tidak lebih dari sekadar pangeran negeri dongeng.

Tapi hatiku selalu berharap, kenyataan akan menarikmu masuk ke dalamnya.


“…and it’s time to face the truth,
I will never be with you.”

Tuesday, December 31, 2013

Aku dan Malam Tahun Baru

It’s already the last day in 2013…


Ketika semua orang sibuk mempersiapkan acara malam tahun baru, aku hanya duduk berdiam diri di kamarku. Bukannya tidak mau berpartisipasi, aku kepingin sekali malah. Bagaimana ya rasanya bertahun baru dengan teman-teman? Maybe we could have a small party, atau mungkin hanya jalan-jalan sambil menikmati kemilau kembang api di atas panorama laut. Ah, asyik sekali kelihatannya. Namun sayang, orangtuaku terlalu sayang padaku. “Tidak boleh,” katanya. “Bahaya. Banyak kasus kriminal yang terjadi di malam tahun baru.” Ya, orangtuaku memang bukan tipe orang yang gampang memberikan izin pada anaknya untuk menginap di rumah teman, atau pulang hingga di atas jam 12 malam. Kecuali untuk alasan yang jelas, dan tujuannya bukan untuk hura-hura. Serta ada beberapa orang yang bisa menjamin keselamatanku (re: bareng teman yang dikenal baik sama mereka). Ya, ambil positifnya sajalah. Mereka terlalu sayang padaku.

Jadi daripada hanya duduk kosong, berdiam diri di sudut kamar sambil meratapi nasib yang tidak bisa bertahun baruan bersama teman-teman, akhirnya aku membuat sebuah solusi. Ya, introspeksi diri.

Menurutku, ini jauh lebih bermanfaat. Introspeksi diri atas apa yang telah dilakukan selama tahun sebelumnya, dan memasang beberapa indikator pencapaian untuk tahun selanjutnya. Sebenarnya untuk kegiatan introspeksi diri ini tidak perlu hanya dilakukan pada malam tahun baru saja, namun di setiap saat. Akan tetapi, menurutku ini penting untuk menentukan beberapa target di tahun yang akan datang. Dalam kamus hidupku sendiri, kategori target hidupku ada empat, yaitu target tahunan, target bulanan, target mingguan dan target harian. Target bulanan, mingguan dan harian merupakan hasil penjabaran dari target tahunan. Makanya, aku perlu menetapkan beberapa target tahunan di awal tahun.

Alhamdulillah, ada beberapa keinginanku yang tercapai di tahun 2013. Di antaranya:
1. Lulus Ujian Nasional, meskipun nilai ujiannya jauh dari harapan.
2. Lulus di Universitas Hasanuddin melalui jalur undangan.
3. Bertemu dengan seseorang.

Di antara semua harapan yang kupasang untuk tahun 2013, hanya itu saja yang tercapai. Mungkin beberapa yang tertunda akan kembali menjadi harapan di tahun 2014 mendatang. Ya, manusia memang hanya bisa berencana tapi Tuhanlah yang menentukan.

Dan, inilah harapan-harapanku di tahun 2014 yang akan datang. Ada banyak sebenarnya, di antaranya:
1. Tinggi badan mencapai 170cm. Tinggi dan berat badan yang ideal adalah idaman kaum hawa, termasuk aku sendiri.
2. Bekerja sebagai tentor bahasa Indonesia di salah satu bimbingan belajar.
3. Lulus SBMPTN 2014? Entahlah. Semoga Tuhan selalu memberikanku petunjuk untuk hal yang satu ini.

Jadi, di malam tahun baru 2014 ini selain membuat berbagai macam resolusi, kuputuskan untuk membaca sebuah novel, atau mungkin menonton televisi yang menayangkan film-film menarik dengan ditemani oleh beberapa cemilan ringan. Terkadang, teman terbaik di saat sedang kesepian ialah makanan dan buku.


By the way, fellas, Happy New Year 2014 :):):)

Friday, December 27, 2013

Why

Kenapakah? Kenapa orang itu? Kenapa bukan orang lain? Dan kenapa harus...ah.

Tidak pernah tidak kukutuk diriku. Logikaku memberontak, tidak setuju. Lagipula...waktunya memang benar-benar tidak tepat. Dan tokohnya. Juga situasinya.

Kenapakah?

Kenapa harus terlalu peduli?

Kenapa harus berlagak seperti patung?

Kenapa ketika semua orang bersikap biasa, aku malah terpaku dengan beragam pikiran di kepalaku?

Aku baik-baik saja hingga orang itu mengisi pikiranku. Dan hatiku.

Kenapakah?

Kenapa logika sulit sekali menyatu dengan perasaan?

Sunday, December 22, 2013

Cerpen - Pesawat Kertas

Aku selalu suka saat-saat di mana aku merasa dekat dengan Sang Maha Cinta. Dalam pekatnya malam, saat mentari pagi tersenyum cerah, atau mungkin ketika hujan turun. Alasannya singkat: aku bisa bercerita banyak pada-Nya tentang dia. Ya, sesederhana itu aku mencintainya—dalam diam dan doa.

Aku tidak pernah jenuh berjalan. Sesekali kerikil membuat hidupku tersandung, mematikan nyala harapan-harapanku. Tetapi selalu saja ada yang membuat api harapan itu tersulut kembali, dan semakin aku memaknainya lebih dalam, kutemukan sendiri jawabannya: keyakinan.

Aku tidak percaya denganroman-roman picisan negeri dongeng. Aku tidak percaya sinetron—atau drama dengan sandiwara hebatnya. Ini ceritaku dengan keelokannya sendiri, aku percaya cinta akan menjemputku menuju kehidupan yang nyata.


***


Senja di sore hari itu kembali hadir dengan garis-garis tipis berwarna oranye di atas langit tempatku berdiri. Angin sepoi-sepoi menyibak seluruh permukaan kulitku dengan halus seakan ingin berkawan denganku. Burung-burung berkicau dengan riang, seperti sedang berdendang untukku. Senja yang sempurna.

Tujuh tahun silam, di tempat ini. Dengan hamparan danau yang jernih dan senja yang setia menemani, aku bersama segelas teh hangat dan setumpuk buku di sampingku. Duduk di atas rerumputan yang hijau, kuambil pena dan selembar kertas lalu kutulis sebait puisi di atasnya. Setelah selesai, kulipat kertas tadi membentuk sebuah pesawat lalu kuterbangkan ke arah utara. Pesawat itu terbang ke sana kemari dibawa oleh angin, hingga jatuh tepat di depan seorang gadis berkerudung merah muda bermata coklat. Ayu, seayu wajah dan hatinya.

Aku menari di atas awan
Membawa rindu dalam sebuah cawan
Demi senja yang mewakili cakrawala,
Kutitip pesan pada SangMaha Cinta
Untuk Kau jaga dia—bidadari tanpa sayap

Gadis itu menghampiriku dengan pesawat kertas yang kubuat di tangan kanannya. Bibirnya melengkung tipis dengan kedua cawak di pipinya sambil menyodorkan pesawat kertas itu kepadaku. Entah mengapa saat itu waktu seperti berhenti berjalan, membiarkanku terhanyut di dalamnya. Aku seperti sebuah patung, atau mungkin mayat hidup. Terbujur kaku dan pucat.

“Ambillah.” Kataku dengan suara yang serak. Susah payah kukumpulkan tenagaku untuk bisa mengucapkan satu kata saja untuknya.

“Benarkah?” Ia menimang pesawat kertas itu selama beberapa detik. “Terima kasih.” Katanya lembut sambil tertunduk malu, kedua pipinya memerah dengan senyum yang berseri-seri. Wajah putihnya yang oval semakin bersinar diterpa mentari senja. Kemudian ia berlalu dengan pesawat kertasku di tangannya yang kini menjadi miliknya.

Aku terdiam beberapa saat sambil memandangnya dari kejauhan hingga ia benar-benar hilang dari pelupuk mataku, begitu pun senja yang menemaniku sedari tadi kini mulai berganti warna. Gema azan berkumandang di angkasa, menyeru kepada setiap insan untuk menghadap pada Penguasa Alam. Kujawab dalam hati panggilan-Nya, tak lupa kuselip nama gadis tadi dalam doaku sembari berharap dijabah oleh Sang Maha Cinta.


***


“Kalian berdua ini, serasi sekali.”

Kalimat singkat nan menggetarkan hati itu tak asing lagi di telingaku. Entah sudah berapa kali kudengar dari mulut teman-temanku kala mendapatiku sedang bercengkerama dengan Ayu—gadis ayu yang hobi mengoleksi pesawat kertasku. Setiap kalimat itu lewat di pendengaranku, sebait doa terucap pula dalam hatiku. Kemudian aku mengamininya dengan penuh pengharapan dan keikhlasan, berharap agar doa-doa itu menjadi nyata dan tak lupa kusisipkan rasa ikhlas atas segala keputusan Sang Maha Cinta.

Bila benar ia masa depanku, maka jagalah api cinta ini di bawah lindungan-Mu. Pertemukan pula kami di saat yang benar-benar tepat. Bila bukan, berikan hati yang lapang untukku dan aku yakin, penggantinya akan jauh lebih baik. Amin.

Ya, sesederhana itu aku mencintainya.


***


Aku selalu suka saat-saat tengah malam, di mana aku bisa berdialog sepuasnya dengan Tuhanku. Atau ketika hujan turun, dan aku akan berdoa sebanyak mungkin. Di dalam kepercayaanku, berdoa pada saat-saat itu akan lebih mudah dikabulkan. Maka tidak kusia-siakan nikmat ini begitu saja, kucurahkan segalanya hanya kepada Yang Maha Mendengar—tidak terkecuali tentang gadis itu.

Hingga pada akhirnya doaku benar-benar terjabah. Lima tahun yang lalu dengan sepenuh hati, dibimbing oleh penghulu dan disaksikan beberapa hadirin, kuucapkan ijab kabul dengan mantap. Rasa syukur dan bahagia tiada tara ada dalam diriku kalapara saksi mengucapkan kata sah. Ditambah lagi ketika kupasangkan cincin emas di jari manis Ayu, semakin besar rasa cintaku pada Tuhan yang telah menyentuh doa-doaku.

“Masih belum puas menikmati senjanya?”

Aku terlalu sibuk dengan lamunanku sehingga tanpa kusadari sejak dari tadi Ayu berdiri di belakangku. Senyum tipis itu kembali tersungging dengan manis tatkala ia duduk di sampingku dengan beberapa buah pesawat kertas di pangkuannya. Lalu kami bercengkerama bersama, menghabiskan senja di hari ulangtahun pernikahan kami yang kelima.

“Fahran…”

Aku menoleh ke arah istriku itu. Ia lalu menggenggam tanganku dengan lembut.

“Aku seperti perempuan paling beruntung di dunia yang menjadi istri dari seorang suami yang selama ini kucintai dalam diam,”

“Aku selalu suka saat-saat di mana aku merasa dekat dengan Sang Maha Cinta. Baik itu di sepertiga malam, atau ketika hujan turun. Alasannya singkat, Fahran: Karena aku yakin seluruh munajatku tentangmu akan dikabulkan,”

Aku terdiam beberapa saat. Kubiarkan Ayu menggenggam erat kedua tanganku.

“Aku diam bukan berarti aku tidak peduli. Aku hanya mendoakanmu, sesederhana itu cintaku.”

Lalu kucium kedua punggung tangannya, kemudian kubenamkan wajahku di sana. Ada air mata bahagia yang mengalir di pipiku. Rasa syukur tiada henti-hentinya kuucapkan pada Sang Maha Cinta atas segala karunia-Nya.

Ana uhibbuka fillah, Fahran.”

Kuangkat wajahku pelan, lalu kukecup keningnya. Kemudian mataku beralih pada pesawat-pesawat kertas yang dibuatnya tergeletak begitu saja. Kuambil satu persatu, dan kuterbangkan ke udara. Ayu tersenyum kecil dan ikut menerbangkan pesawat-pesawat kertas itu. Hingga pada pesawat yang terakhir, kubiarkan ia menerbangkannya dengan sebait puisi di sana,

Cintaku tidak berbuah semu
Tidak sendu, tidak pula ragu
Dan demi senja yang selalu kurindu
Kukirimkan pesan pada Sang Maha Cinta
Untuk Kau abadikan kami dalam surga


“Ayu…”

Wajah lembutnya menoleh ke arahku, masih dengan senyumnya yang khas. Manis.

Wa ana uhibbuki fillah.”

Pesawat kertas itu menari-nari di udara.

Negeri Dongengku Hidup Kembali

Negeri dongengku punah. Istananya hancur. Rakyatnya mati. Negeri dongengku sisa puing-puing.

Realita menampar pipiku dengan keras, membangunkanku dari pembaringan. Bunga tidurku layu, tanahnya gersang. Negeri dongengku benar-benar hancur.

Lalu dengan pilu, kususun kembali kepingan-kepingan negeri dongengku. Kemudian runtuh. Lalu kususun lagi. Runtuh lagi. Kususun lagi. Aku tidak menyerah sampai akhirnya negeri dongengku kembali utuh.

Kusimpan cerita di dalamnya dengan hati-hati, kulipat rapi, kusisipkan harapan, kutiupkan doa. Lalu kuterbangkan menembus langit untuk kukirimkan pada Penguasa Semesta. Negeri dongengku hidup kembali.

Negeri dongeng yang baru, harumnya semerbak bunga, istananya tersusun apik, rakyatnya sejahtera. Negeri dongengku punya nyawa.

Thursday, November 28, 2013

Yang Terlupakan

Dulu, kau hanya kupandang sebelah mata. Tak sedikitpun pandanganku menoleh ke arahmu. Kalaupun iya, kucibirkan bibirku sambil berkata pelan, “Kampungan!”

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Kau tak jua letih menampakkan dirimu di hadapanku, di manapun aku berada. Rasa bosan akan melihatmu seringkali menyergap, namun tanpa lelah kau terus merangkul hatiku untuk selalu bersama denganmu. Akupun jengah.

Sekali lagi, kau hadir di depan mataku. Kuberanikan diri menatapmu, mendekatimu, dan... ah, apa salahnya mencoba? Lalu kumulai menjalani hari-hariku denganmu. Berat rasanya, namun selalu ada hal yang membuatku merasa nyaman. Tidak jenuh kau menuntunku menjadi pribadi yang lebih baik tiap harinya dan dengan sabar kau bimbing daku. Hatiku luluh, akupun belajar mencintaimu.

Tidak pernah kusadari sebelumnya bahwa kau adalah sebaik-baik pelindung bagiku, penjaga kehormatanku di dunia dan di akhirat kelak. Denganmu, aku merasa aman. Bersamamu, aku merasa lebih dekat dengan Tuhanku. Kenyamanan yang kau berikan seolah membuatku tak ingin berpisah darimu. Ah, kadang penyesalan datang padaku, mengapa baru sekarang aku dekat denganmu? Mengapa tidak dari dulu?

Tapi satu hal yang kusyukuri bahwa Tuhan telah membukakan pintu hatiku untuk menerimamu. Kuharap selamanya kita akan menjalani kehidupan ini, janjiku padamu tidak akan kuacuhkan kau lagi. Oh JILBABku... kau adalah sebaik-baik pelindung bagiku, dan bagi wanita muslim lain di muka bumi ini.

Sunday, October 6, 2013

Surat untuk Sang Maha Cinta

Kepada Sang Maha Cinta
Di Langit TempatNya Berpijak

Ku kirim surat ini untukMu, Sang Maha Cinta. Untuk Kau sampaikan kepada yang ku maksud di sini.

Sang Maha Cinta, perkenankanlah aku, hambaMu dengan segala keterbatasan dan kekurangan menyampaikan apa yang selama ini mengganjal dalam hati. Tentang perasaan yang tak kunjung mati, tentang rindu yang tersimpan berabad-abad lamanya.

Sang Maha Cinta, beratus-ratus tahun ku pendam segala keresahan yang semakin hari, semakin menyesakkan jiwa ini. Ku kunci rapat-rapat, ku rawat sendirian. Bilamana waktu akan menepati janjinya untuk membawaku pada sebuah kedamaian, adakah benar secercah harapan itu menungguku di sana? Lalu sampai kapan aku harus berjalan dan bertahan?

Sang Maha Cinta, terlalu banyak labirin yang harus kulalui, membuatku letih nyaris mati. Bilakah benar ada seberkas cahaya di dalamnya, lalu di mana lilin-lilin itu? Mengapa hanya ada sepi dan sunyi?

Tidak pernah bisa kutebak akan berakhir bagaimana nantinya. Kadang di setiap keputusasaaanku, harapan-harapan akan cerita indah tumbuh perlahan-lahan. Kadang pula sisi lain membantahnya dengan kasar, menampar impian-impian negeri dongeng. Logikaku melawan, tapi hati kecilku tetap bertahan.

Sang Maha Cinta, aku hanya butuh petunjuk atas jalan yang akan kulalui. Kiri atau kanan, berhenti atau terus berjalan, aku benar-benar buta. Semuanya hitam, kelam, aku kian menjadi tunanetra.

Sang Maha Cinta, bilamana ia yang akan memasangkan cincin di jari manisku kelak, biarkan saja perasaan ini hidup selamanya. Lebur saja rasa sakit hati yang ada, karena pada akhirnya aku akan bersama-sama dengannya.

Sang Maha Cinta, bilamana Kau tidak pernah mengizinkan aku bersamanya, lantaran ia benar-benar bukan yang baik untuk kehidupanku kelak, buang saja perasaan ini jauh-jauh, lebih jauh dari pada jarak Adam dan Hawa ketika Kau pisahkan. Karena hanya akan semakin sesak bila terus memendamnya tanpa pernah ada kejelasan.

Untuk Sang Maha Cinta, ku titipkan rasa cinta dan pengharapanku kepadaMu agar senantiasa Kau jaga keutuhannnya, atau Kau ganti dengan yang jauh lebih baik. Ku titipkan pula rasa rindu yang tiada tara agar Kau pertemukan kami di muka bumi tempat hamba-hambaMu berpijak, atau di taman-taman surgaMu suatu saat nanti. Hanya kepadaMu, Sang Maha Cinta, aku memuji kekuasaan dan keagunganMu. Jangan sekali-kali Kau biarkan rasa cintaku kepadaMu terkalahkan oleh rasa cintaku untuk hambaMu.

Saturday, August 24, 2013

Hanya Kau dan Tuhan

Di dunia ini, banyak hal yang bisa kita temui. Ada banyak hal pula yang bisa kita pelajari, tapi tidak semua hal bisa kita bagi kepada orang lain.

Terkadang, kita harus bisa untuk hidup sendiri. Berpikir sendiri. Bertindak sendiri. Sedih sendiri. Bahagia sendiri. Benar-benar mandiri. Mengapa? Karena tidak semua orang mengerti.

Di saat dunia mulai terasa sesak, orang-orang bertindak semaunya saja. Hingga kadang kita tidak bisa melihat dengan jelas, mana yang asli, dan mana yang palsu. Wajah asli dan topeng yang mereka gunakan nyaris tak ada bedanya. Lalu, apa yang harus kita perbuat?

Sampaikan segalanya. Keluh kesah, cerita pilu, airmata, hanya kepada satu orang saja. Yang akan menentramkan hatimu, Yang mengerti keadaanmu. Siapakah gerangan?

Ya, Tuhan.

Ada sanak familii yang selalu menemani, ada banyak kerabat yang kita miliki, tapi tidak semuanya memahami. Mungkin karena mereka tidak tahu? Atau mungkin karena mereka tidak pernah merasakan?

Sulit memang. Namun mau bagaimana lagi? Terkadang kita harus menjadi pribadi yang apatis dan masa bodoh, walau sebenarnya hatimu merengek, namun logikamu harus angkat bicara. Egois atau tidak, hanya Tuhan yang tahu.

Berjalan, berlari, bahkan di diam di tempat, semuanya adalah pilihan. Kau adalah pemeran utama dalam skenario kehidupan yang kau jalani, bukan orang lain, bukan dia, bukan mereka. Kau tentu tahu apa yang harus kau lakukan.

Wednesday, July 24, 2013

Negeri Dongeng dan Realitanya

Ini realita, dan dongeng hanya akan tetap menjadi sebuah pengantar tidur belaka. Hanya sebuah pengantar tidur...

Ini realita, dan cerpen hanya akan tetap menjadi sebuah hiburan belaka. Hanya sebuah hiburan…

Imajinasi itu seolah menjadi sahabat baikku ketika realita membalikkan punggungnya. Tidak ada apa-apa, tidak juga dirimu. Karena kau tidak lebih dari sekadar pengantar tidur yang menghiburku di setiap malam.

Perlahan aku mulai membuka mata, melihat sekeliling dunia dari sisi yang nyata. Aku hampir tidak sadar, sebegini lamanyakah aku berada di negeri dongeng? Negeri dengan sejuta khayalan yang menjadi nyata di alam pikirannya sendiri, indah, bebas, tanpa beban.

Aku seperti berjalan di atas taman bunga. Irama melodi yang mengalun terdengar bahagia bersama dengan simfoni cintanya. Segala kisah akan kekal abadi selamanya, menjadi romantis seumur hidup tanpa ada jeda yang memotongnya. Oh negeri dongeng, telah kurajut cerita cintaku di sana. Meraba setiap punggung-punggung kehidupan ratu dan raja, aku dan kau hidup bahagia.

Kau adalah segala peran dalam setiap dongengku. Kau kucintai dan kumiliki, kau segalanya. Kau bahagia dan kita menjalin cinta bersama-sama. Hatimu tempatku berlabuh, tanganmu ku genggam sehingga tak akan ada perpisahan, dirimu kurangkul erat selamanya. Cinta kita abadi...

Oh negeri dongeng, indah nian di pelupuk mataku. Hanya dengan berada di sana aku bisa menyentuh cintanya, hanya dengan berada di sana aku dapat memadu kasih dengannya. Oh negeri dongeng, andai selamanya dapat ku tempuh hidupku di sana…

Ah, realita. Aku bosan dengan euforia kepalsuanmu. Di saat segala hal menjadi serba tidak mungkin, aku turut bertekuk lutut. Di saat mereka menendang dengan kasar, aku terhimpit di antara puing-puing harapan. Apa lagi yang menarik? Nyaris tak ada. Realita terlalu suram untuk ku tempati berpijak.

Tapi kenyataannya, aku adalah realita dari kehidupan yang selama ini ku jalani. Ya, ini memang realita, dan negeri dongeng hanya akan menjadi bualan belaka.

Buta

Ia mendengar bahwa kekasihnya sedang memeluk bunga melati sebagai tanda akan cintanya kepada perempuan lain,

Ia mendengar kekasihnya akan menanam bunga melati itu di hatinya.

Ia mencoba untuk tetap berdiri di atas garis yang telah ia buat, namun angin kencang yang menerpanya barusan membuat dirinya goyah. Ia terjatuh, namun belum juga beranjak. Ia masih di sana, dengan nafas yang dibuatnya untuk bertahan hidup. Sebisa mungkin ia mencoba untuk terlihat baik-baik saja, namun siapa yang tahu akan isi hatinya?

Ia menangis, hatinya meraba sebuah perasaan yang hampir mati. Di mana cinta yang pernah berkobar-kobar itu?

Padahal baru saja ia menjadi seekor kumbang yang riang dalam tawa. Seekor kumbang yang baru saja menemukan kuncup bunga yang indah nan harum dan menjadi tahtanya layak seorang ratu semalam. Mengapa kini ia harus terluka?

Ia bahkan tak bisa melihat sisi mana ia akan terus berpijak. Semuanya terlihat begitu gelap, kosong, hampa, ia menjadi buta.

Ia menjadi buta…

Saturday, June 8, 2013

Rindu

Hati mana yang tak sedan
Melihat kekasihnya memeluk rembulan
Memadu cinta dalam senja
Merajut benang-benang asmara

Hati mana yang tak pilu
Mellihat kekasihnya merintih rindu
Mencumbu sendu di malam biru
Pada insan yang tak kau tahu

Hati mana yang tak risau
Melihat kekasihnya terus berkicau
Menggenggam hampa dalam candu
Pada setiap bait-bait lagu

Ku tengadahkan kedua tangan
Menitip doa pada Tuhan
Untuk kekasih yang bersemayam
Dalam penghias tidur di setiap malam

Ku rengkuh angin ribut
Bersama perasaan yang kalang kabut
Ku harap jua namaku kau sebut
Dalam sujudmu di setiap tahajjud

----

Ia selalu berteman dengan malam. Mengapa? Karena hanya rembulan yang tahu akan kerinduan yang ia pendam dalam kotak hatinya.

Ia hampir letih ketika menghitung jarum jam tiba di saat yang ia nantikan. Ia nyaris tak berdaya memeluk angin yang membawanya dalam helaan rindu di setiap desahannya. Perjalanannya masih panjang. Ia bahkan belum memakai kostum kehidupannya yang sementara dirajutnya.

Jika mereka ingin bertanya, masih adakah cinta di sana?

Ia bahkan menutup matanya erat-erat dari kemilau cahaya yang ia tahu akan membawanya jauh pergi. Ia mengikat tangannya, kakinya, bahkan hatinya. Ia tetap berdiri, menapaki tanah dengan garis abu-abu yang ia lukis sendiri. Dan ia tak paham akan itu.

Namun, ada setitik keraguan dalam bola mata yang tajam itu, walau hatinya tak henti-hentinya menguatkan akan cinta yang tak kenal lelah. Ada peluh yang menetes di sana, walau kesetiannya masih dalam—tidak berubah.

Sampai kapan?

Sampai ia benar-benar merasa layak.

Akankah?

Waktu, kau berhak menjawabnya.